Selasa, 09 Oktober 2012
Mata itu semakin sayu.
Tak ada lagi kehangatan yang terpancar dari mata itu. Kosong. Namun pandangan
matanya terarah ke sebuah gambar. Sebuah gambar yang menggambarkan sebuah
kebahagiaan. Ya, itulah foto dirinya dengan keluarganya saat dia berulang tahun
yang ke tiga tahun. Itu adalah saat dimana kita semua berkumpul, dengan cinta
diantara kita. Satu keluarga utuh, layaknya keluarga yang lainnya. Perasaan itu
kembali. Perasaan senang yang mungkin selama ini jarang dia rasakan. Perasaan
bahagia diantara keluarga yang lengkap. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
Sayup sayup ia mendengar, suara gebrakan meja dari lantai bawah. Senyuman itu
menghilang tak berbekas. Hentikan. Aku
mohon. Tolong berhenti.. Aku sudah tidak kuat. Tolong. Saya mohon ya Tuhan... dan
sebulir air mata terus jatuh menetes,
setiap mendengar teriakan yang tak kunjung mereda.
BRAK!! Neta terjatuh
dari tempat tidurnya. Ternyata Neta tertidur dalam keadaan menangis hingga esok
pagi ini. Dan Neta tersadar, bahwa dirinya sudah terlambat masuk sekolah. Netapun
segera bergegas. Dan melupakan kejadian semalam.
“Neta! Kamu terlambat
lagi?! Sebenarnya kamu ini ngapain sih? Nge game? Nonton TV? Atau ngapain?!”
bentak Pak Sarwono.
“Maafkan saya Pak, saya
hanya tidak bisa tidur tadi malam.” Jawab Neta pelan. Neta melamun. Namun
segera sadar dengan bentakan Pak Sarwono.
”Alasan kamu! Apa yang
menyebabkan kamu tidak bisa tidur? Setan? Hantu? Maling? Bom? Atau apa?!” tegas
Pak Sarwono yang nadanya semakin kali semakin keras. Sepertinya guru Neta yang
satu ini emosinya sudah mencapai klimaks.
“Tidak tau Pak. Saya
minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Neta lemah.
“Itu yang kamu ucapkan
kemarin. Lebih baik kamu mempersiapkan alasan yang lebih bagus lagi. Ini
terakhir kalinya kamu terlambat. Sekali lagi, saya akan menskors kamu.
Dengar?!” jawab Pak Sarwono seraya meninggalkan ruang Kepala Sekolah.
“Baik Pak.” Jawab Neta
pelan. Andai saja, Bapak tau apa yang
terjadi. Bapak tidak akan berkata demikian. Pikir Neta sambil menahan air
mata itu menuruni pipinya. Hari itu Neta pulang dengan takut. Takut lagi lagi
dia harus mendengar setiap teriakkan yang menyayat hatinya.
“Neta! Main yuk.” Ajak
Alex sahabat karibnya. Walaupun umur Alex lebih tua 1 tahun dari pada Neta,
mereka telah bersahabat sejak mereka berada di TK. Sekarang, Neta umur 12 dan
Alex umur 13. Namun, mereka tetap satu kelas. Karena Alex telat masuk SD. Hal
itu juga dikarenakan oleh Neta. Alex tidak mau masuk SD kalau tidak ada Neta.
“Ayo! Tapi main apa
Lex?” jawab Neta bingung. Sudah lama dia tidak pernah memakai kata “kak” dalam
hal memanggil Alex. Terlalu tua.. Selalu seperti itu jawaban Alex kalau Neta
memanggilnya dengan menggunakan “kak”. Tetapi Neta selalu menemukan sesosok
kakak yang selama ini Neta cari dalam diri Alex. Sesosok yang menyayangi Neta.
“Gimana kalau petak
umpet? Seru juga kan kalau cuma berdua. Ya nggak?” jawab Alex yang duduk di
ayunan sedang memandangi langit sore itu dari taman perumahan.
“Boleh! Siapa takut?”
jawab Neta antusias sambil mengikuti arah pandang mata Alex.
“Indah.......” gumam
Neta.
“Memang indah. Dulu, sewaktu
Mama ku masih ada, aku sering kesini dan melihat cahaya matahari sore hari.
Kadang aku juga melihat Venus kalau aku dan Mama sedang beruntung. Sekarang, Mama
sudah jadi bintang disana.” Kata Alex sambil menunjuk ke atas.
“Alex kangen ya sama Mama?
Yang sabar ya, Alex. Besok Alex juga bakal ketemu lagi sama Mama Alex kan?
Seperti kata Alex dulu.” Jawab Neta kasihan dan sedih melihat sahabatnya tiba
tiba menjadi murung.
“Iya, Alex pasti bertemu
lagi sama Mama.” Jawab Alex pelan dan sedikit berharap.
“Kena! Alex jadi ya?
Hehe, sudah sekarang Neta mau ngumpet dulu.” Teriak Neta yang ternyata sudah
berlari meninggalkan Alex.
“Ah curang kamu! Baiklah. Aku pasti akan
menemukanmu Neta! 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9..10.. sudah ya? Oke, aku
mulai mencarimu, Net!” teriak Alex sambil berlari. Sore itu menjadi sore yang
indah untuk mereka berdua. Neta pun sekilas melupakan kejenuhannya di rumah.
Alex dan Neta sama-sama
datang dari keluarga yang mapan. Alexandra Aurelia Wijaya adalah seorang
keturunan dari pasangan pemilik perusahaan mebel terkenal di Yogyakarta. Namun,
saat Alex berumur 5 tahun, Alex harus menerima kenyataan. Bahwa kedua orang
tuanya meninggal saat mobil yang kedua orang tuanya tumpangi menabrak pembatas
jalan dan mobil itu masuk ke dalam jurang. Saat itu, saat Alex melihat kedua
orangnya terbaring lemah dan tertutup oleh kain, Alex berpikir bahwa mereka
berdua tidur. Namun, seiring berjalannya waktu, Alex tau bahwa mereka sudah
pergi bersama dengan Tuhan. Itulah yang menyebabkan Alex selalu menjadi lebih
dewasa ketika ia berkumpul dengan teman temannya. Alex lebih mandiri.
Sedangkan Neta adalah
anak dari Alexander Gunawan dan Ignatia Renata. Neta adalah anak tunggal. Namun, sudah lama
orang tua Neta tidak pernah akur dalam segala hal. Mereka selalu bertengkar.
Neta tak mengerti, mengapa mereka selalu seperti itu. Yang jelas, Neta selalu
tersiksa ketika orang tuanya sedang bertengkar. Rasanya, pengen mati saja kalau
mendengar pertengkaran mereka.
Sekarang ini, kehidupan
di rumah Neta hanya dipenuhi oleh keributan dan masalah. Tak pernah ada
kedamaian. Masalah sedikit, bisa menjadi masalah besar. Neta menjadi lebih
sering berada di luar rumah. Entah itu di rumah Alex ataupun hanya sekedar
memandangi cahaya kemerahan yang dibuat oleh matahari di sore hari. Orang tua
nya pergi jam 7 pagi, pulang jam 8 malam. Lalu mereka akan bertengkar. Selalu
seperti itu. Tak pernah ada kata ‘damai’ ditengah mereka kini.
Dulu setelah kepergian
orang tua Alex, Alex menjadi pendiam. Neta bingung. Karena Neta memang tidak
mengerti apa yang sedang terjadi. Orang dirumah Alex berkata kepada Neta, bahwa
orang tua Alex tidur untuk selamanya. Namun Neta tidak mengerti maksudnya. Neta
hanya mencoba menghibur dan membuat Alex kembali seperti dulu. Membuat Alex
seceria dulu. Perlahan tapi pasti, Alex kembali menjadi Alex yang dulu.
Meskipun Alex masih sedikit kaku dan diam. Tetapi Alex sudah bisa sedikit
berubah dari murungnya. Dan Neta pun senang karena itu. Dan sejak saat itu,
Neta semakin dekat dengan Alex. Karena Alex lah satu satunya keluaga yang dia
punya. Dan semakin lama, mereka menjadi sulit dipisahkan.
Hari itu kelas VIID
mendapatkan seorang anak baru. Murid ini mendapatkan beasiswa sehingga dia bisa
masuk ke sekolah ini. Namanya Joshua. Joshua mempunyai wajah yang manis dan
ganteng. Keperawakannya pun tegap dan tinggi.
“Joshua?” tanya Neta
malu malu.
“Iya?” jawab Joshua
polos.
“Aku boleh berkenalan
tidak?” tanya Neta yang sekarang mukanya berubah menjadi lebih merah.
“Boleh. Aku Joshua. Kamu
Neta ya?” jawab Joshua yang ternyata juga tersipu sambil menjabat tangan Neta.
“iya, kamu tau? Wah,
hebat.” Jawab Neta perlahan namun dari gaya berbicara nya sudah terlihat lebih
ringan.
“Iya, aku kan mempunyai
semacam alat didalam otakku. Jadinya aku pintar menebak orang. Dikasih sama
Dewa Langit nih. Maaf aku agak aneh.
Tapi aku memang menyukai segala sesuatu tentang langit. Jadinya aku suka
membuat cerita tentang dewa langit.” Jawab Joshua sambil menunjuk ke kepalanya.
“Dewa Langit?” tanya
Neta antusias.
“Iya, Dewa Langit.
Kekanak kanakkan ya? Maafkan aku. Memang imajinasiku terlalu berlebihan.” Jawab
Joshua.
“Dewa Langit itu baik
ya?” tanya Neta terus menunggu jawaban Joshua. Joshua yang sadar bahwa kali ini
ada orang yang antusias dengan khayalannya, menjadi sangat senang. Segeralah
Joshua menjawab dengan sangat senang.
“Dia sangat baik. Bahkan
dia mau memberikan alat ini untukku. Biasanya dia menggunakan alat ini untuk mencari bintang di langit
langit. Mencari bintang yang baru muncul” Jawab Joshua.
“Ceritakan semua tentang
Dewa Langit-mu itu, aku akan sangat senang mendengarnya.” Jawab Neta begitu
tertarik. Karena baginya, imajinasi seseorang adalah hal paling menarik di dunia
ini.
“Baiklah!” jawab Joshua
girang.
Obrolan mengenai dewa
langit terus berlanjut. Joshua dan Neta pun menjadi semakin akrab. Dan Neta
merasa, ada yang lain dalam diri Joshua. Netapun sedikit berharap, persahabatan
ini akan bertahan sampai lama.
“Ternyata rumahmu ada
didekatku ya? Cuma dibelakang kompleks rumahku.” Tanya Neta kepada Joshua. “Iya,
aku juga nggak nyangka.” Jawab Joshua santai.
“Neta!” teriak Alex yang
berlari mengejar Neta dan Joshua.
“ah! Kamu jahat banget.
Ninggalin aku.” Alex berkata sambil mengatur nafasnya.
“Habisnya kamu dicariin
muter sekolah juga nggak ketemu. Yaudah, aku duluan aja. Lagian ya ternyata si
Joshua ini rumahnya dibelakang kompleks rumah kita. Jadi sejalan.” Cerita Neta
panjang lebar.
“Oiya? Wah seru dong.
Bisa barengan terus. Asik, dapet temen, Net.” Jawab Alex antusias.
“Iya, Lex. Nggak nyangka
juga lho aku.” Jawab Neta.
“Eh Neta! Joshua! Maaf
ya, hari ini aku harus pulang cepetan. Aku mau pergi les. Aku lupa, aku mulai
les soalnya bentar lagi kan aku mau ikut semacam lomba olimpiade. Duluan ya
Net, Joshua!” kata Alex.
“Oke, sana pulang. Belajar yang rajin.
Menangin tu olimpiade.” Joshua menyabotase Neta ketika Neta hendak menjawab
perkataan Alex.
“Baiklah!” Alex
berteriak sambil berlari menuju rumahnya.
“Rumahmu dimana sih?”
tanya Neta penasaran.
“Ini lho, masuk ke gang
sini. Kecil sih rumahnya, aku bukan orang mapan. Keluargaku hidup sederhana.
Bapakku sudah tidak ada ketika aku berumur 7 tahun. Dan sejak itulah aku
menjadi senang dengan Dewa Langit. Karena bagiku, dialah Dewa Langit-ku. Ah
sudahlah, imajinasiku keterlaluan.” Jawab Joshua sedikit tersipu.
“Oh begitu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud
membuatmu kembali mengingat itu semua.” Neta menjawab dengan kepala sedikit
menunduk.
“Enggakpapa kok. Aku
juga tau, kalau kamu belum tau. Kamu kan enggak punya ini alat.” Jawab Joshua
sambil mengelus kepala nya sendiri.
“Yasudahlah, aku pulang
ya. Daah” Neta pergi sambil melambaikan tangannya.
“Daaah.” Joshua menjawab
dan ikut melambaikan tangannya.
“Ngomong-ngomong, imajinasimu
bagus. Aku suka.” Teriak Neta.
“Terimakasih!” Joshua
membalasnya dengan berteriak tanpa mampu menyembunyikan perasaannya.
Joshua yang tengah
berjalan pulang, tersenyum sendiri. Jadi,
sebahagia ini ya punya teman itu. Mereka, teman pertamaku. Jadi, aku akan
menjaga mereka bagaimana itu caranya. Dan Neta, Neta adalah satu satunya orang
yang mau menyukai imajinasinya. Bagi Joshua, Neta dan Alex adalah teman
pertama yang mengerti keadaan Joshua.
Karena selama ini, Joshua selalu dijauhi oleh teman temannya. Karena
Joshua yatim, miskin, dan juga aneh.
Saat Neta kembali ke
rumahnya, sang surya telah kembali ke peraduannya. Jam sudah menunjukkan pukul
7. Sebentar lagi, perang akan meletus.. Neta
berkata dalam hati. Neta memilih untuk masuk ke dalam kamar. Mengunci dirinya
di dalam. Seakan kamar itu kedap suara. Neta mendengar suara mobil masuk ke
garasi. Neta sudah bersiap untuk mendengar perang yang benar benar tak ingin
dia dengar.
“Papa itu! Suka nya
ngatur ngatur Mama! Memangnya Papa udah sempurna?! Papa ngelarang Mama ini itu,
apa Papa pernah merhatiin Mama?” teriak Mama.
“Kamu itu tau apa?! Saya
melakukan ini untuk kebaikan kamu! Kamu saja yang tidak pernah mengerti saya!
Selama ini kamu pikir saya menikahi kamu untuk apa?! Saya pikir, kamu itu baik.
Manis. Nurut sama suami. Ternyata, kamu itu Cuma mau harta!” teriak Papa lebih
keras lagi.
“Saya minta cerai!” Mama
membanting pintu kamar.
“Oke! Saya akan ceraikan
kamu besok!” Teriak Papa yang juga membanting pintu.
Pelupuk mata nya sudah
kembali dipenuhi air. Air mata yang sudah kesekian kalinya ditahan agar tidak
keluar. Cerai? Bendungannya sudah tak
bisa menahan air yang terus membanjiri matanya. Ia ingin sekali berteriak.
Namun ia tak punya kekuatan untuk melakukannya. Dan sekarang, bantal lah yang menjadi
temannya. Neta menangis hingga tertidur. Jalur air mata yang dibiarkan menetes
melalui pipinya masih tergambar jelas ketika Neta bangun. Matanya sedikit
bengkak. Namun sekali lagi, tak ada yang memperhatikannya.
“Pagi Joshua. Yuk
berangkat.” Sapa Neta dan Alex.
“Ayo. Aku sudah siap.”
Jawab Joshua.
“Yang duluan sampai
sekolah, dia yang menang!” teriak Neta sambil berlari meninggalkan kedua
sahabatnya. Namun, Alex yang sudah terbiasa langsung berlari mengejar.
“CURANG!!” Joshua
berteriak dan segera mengejar Neta dan Alex yang spertinya bersengkongkol untuk
mengerjai dirinya.
Dan sekali lagi, Neta
merasa bahagia diantara kedua sahabatnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ada
ditengah kedua orang tuanya dan dirinya. Kebahagiaan diantara orang orang yang
mengalami broken home seperti
dirinya.
Sore itu, Alex harus
pergi ke Semarang bersama Kakeknya. Jadi, Alex tidak bisa menemani Neta bermain. Neta
akhirnya sendirian di taman. Tapi tiba tiba seseorang menepuknya ketika Neta
sedang duduk di kursi taman. Memandangi langit yang mulai memerah.
“Net! Ngapain sendiran?
Aku temenin ya?” kata Joshua yang sudah berhasil membuat Neta terlonjak kaget.
“Joshua! Ngagetin aja
kamu! Astaga. Boleh.” Jawab Neta seadanya karena Neta berpura pura marah kepada
Joshua.
“Duduk ya. Distorsi
cahaya matahari pada sore hari membuat langit hari ini indah ya. Pantas kamu
betah ada disini. Aku baru tau kalau ternyata ada spot sebagus ini disini. Langit itu memang menyimpan sejuta misteri
yang indah. Contohnya ya langit sore ini. Dewa Langit memang sangat pintar
dalam mengatur ini semua.” Jawab Joshua dengan memandang kagum langit sore itu.
“Iya, memang indah. Dewa
Langit memang hebat dalam berkarya. Aku suka dengan karyanya. Sangat.” Jawab
Neta. Pandangannya menerawang.
“Eh kamu tadi kenapa sih
Net? Kok mata kamu bengkak? Kamu ada masalah ya? Boleh denger nggak? Aku bisa
dengerin kok. Ya siapa tau aku bisa sedikit ngehilangin beban kamu.” Ucap
Joshua. Kata kata barusan seolah menyihir Neta. Neta menjadi salah tingkah. Kenapa dia bisa tau? Dia baru mengenal aku 2
hari. Dia sudah bisa melihat aku menangis? Bahkan, Alex saja jarang sekali
menyadari hal itu. Pikir Neta. Karena Neta sudah mati matian menutupi
segala hal yang terjadi di rumah. Dia tak ingin ada yang tau tentang hal itu. Berbongkah
bongkah es batu telah Neta habiskan untuk mengompres matanya. Selama ini trik
ini berhasil. Tapi kali ini, ada yang bisa membacanya.
”Hmm.. nggak ada apa apa
kok. Hehe.” Jawab Neta sesantai mungkin.
“Sudahlah, jangan bohong
sama aku. Aku tau. Alat ini sudah memberi tauku.” Jawab Joshua sambil menunjuk
kearah kepalanya. Neta berusaha mempertimbangkan apakah ia akan memberi tahu
Joshua yang sebenarnya atau tidak. Akhirnya, Neta memilih menceritakannya.
Joshua mendengarkan
setiap kata yang di ucapkan Neta. Seakan dia ikut merasakan apa yang dirasakan
oleh Neta. Seumur Joshua hidup, baru kali ini dia mendengar cerita seperti itu.
Joshua bergidik ngeri. Joshua tidak tau harus bagaimana kalau saja itu terjadi
di keluarganya.
Neta menceritakan
semuanya kepada Joshua. Entah kenapa, Neta merasa lega setelah melakukannya. Serasa,
beban yang selama ini dia topang terlepas begitu saja. Lenyap. Bebas. Beban itu
pergi lenyap entah kemana. Neta menyadari, Neta telah membuka aib keluarganya.
Namun sepertinya Joshua bukanlah orang yang harus ditakuti. Joshua takkan
pernah membongkar rahasia ini kepada orang lain.
Dan sisa sore ini
dihabiskan Neta dan Joshua dengan saling bercerita. Joshua bercerita tentang
Bapaknya, tentang Ibunya, tentang beratnya ditinggal seorang bintang penuntun.
Tentang perjuangannya agar Joshua bisa masuk ke sekolah mereka sekarang ini.
Joshua menceritakan semuanya. Hal yang sangat amat rahasia yang jarang Joshua
bagi kepada siapapun. Namun, entah mengapa, Joshua merasa nyaman saat bercerita
dengan Neta.
Saat mereka harus
pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, Joshua mengecup pelan
kening Neta. Memberinya semangat.
Setelah kejadian di
taman itu, Neta dan Joshua menjadi semakin dekat. Bahkan ada yang berkata bahwa
mereka berdua itu pacaran. Namun, mereka tidak pernah menganggap hal itu.
Mereka tetap bersahabat. Karena sahabat itulah yang terbaik.
Malam itu, Neta kembali
mendengar suara tak mengenakkan dari bawah. Orang tua Neta akan bercerai.
Bahkan surat cerainya sudah ada. Tinggal menunggu persidangan. Neta menatap
keluar jendela. Menatap langit. Abu abu. Lalu dia berkata didalam hati. Dewa Langit, kalau kau memang baik,
munculkanlah bintang satu saja saat ini. Aku sedang sedih. Hiburlah aku, dan
aku mohon, biarlah Joshua bisa melihat keindahan bintang itu. Sekedar untuk
mengobati rasa rindunya kepada Bapaknya.
Malam ini, Joshua
mencoba mengingat semua hal yang telah diceritakan oleh Neta kepadanya. Dia
mencoba berpikir, bagaimana caranya agar orang tua Neta dapat berbaikan. Lalu
Joshua pergi ke depan rumahnya, melihat ke langit. Dewa langit, jikalau memang dirimu ada. Tunjukkan lah satu bintangmu.
Berilah aku semangat dengan bintangmu itu. Beri aku petunjuk. Dan biarlah Neta
bisa melihatnya, agar dia bisa kuat,
menghadapi ini semua.
Dan sebuah bintangpun
bersinar terang. Diantara abu-abunya langit itu.
Setelah seminggu
berpikir, Joshua menemukan cara untuk mendamaikan orang tua Neta. Joshua tidak
tau, apakah surat ini akan mendamaikan mereka atau justru memperburuk keadaan
karena ada orang yang mencampuri urusan mereka. Namun, Joshua ingin berusaha.
Joshua ingin mencoba. Karena segala sesuatu jika belum dicoba, tidak akan tau
hasilnya seperti apa. Dan Joshua yakin, segala sesuatu yang dimulai dengan
keyakinan, akan selalu berbuah baik.
Joshua mengirimkan surat
itu lewat kantor pos. Karena Joshua tidak mungkin datang ke tempat dimana orang
tua Neta bekerja, karena Joshua hanya mempunyai sebuah sepeda tua untuk
berpergian lumayan jauh. Itupun juga sepeda peninggalan Bapaknya. Sedangkan
rumahnya ada di daerah Jogja, dan kantor kedua orang tua Neta ada di Bantul.
Itu berarti, kalau Joshua ingin mengantarkannya secara langsung, Joshua harus
berkendara kurang lebih 20 km. Jarak yang sangat jauh. Jadi, Joshua memutuskan untuk mengirimkan
saja surat itu.
Di perjalanan pulang,
Joshua melihat ada toko yang menjual berbagai macam hiasan yang bertemakan
langit. Joshua teringat Neta. Sesaat, Joshua merogoh koceknya. Dua puluh ribu.. semoga ini cukup untuk
membelikan Neta hadiah..
Joshua memasuki toko
itu. Sederhana memang toko itu. Semoga
harganya tidak terlalu mahal. Kemudian, Joshua melihat lihat. Joshua
melihat sebuah hiasan dinding berbentuk bintang. Hiasan ini bisa bercahaya
dalam gelap, karena mengandung fosfor. Joshua tertarik untuk membeli itu. Pasti Neta suka dengan hadiah ini..
Segera saja, Joshua membawa hiasan ini ke kasir. Dan ternyata harganya hanya
tujuh belas ribu. Joshua sangat bersyukur karena itu. Setelah dibungkus rapi, Joshua
menuliskan sesuatu di kertas dan menempelnya diatas bungkusan itu.
Saat keluar dari toko
itu, Joshua segera mengambil sepeda nya yang terparkir di seberang jalan. Sebegitu
senangnya, Joshua berlari kecil sambil menyebrangi jalan, tanpa menyadari ada
truk besar yang sedang melaju kencang di sebelahnya.
CIIIIIIIIIIIIITTTTT!!!
BRAAAAAAAK!!!
Mendadak Joshua tidak
bisa melihat. Hitam dimana mana. Joshua hanya bisa mendengar jeritan beberapa
orang, entah itu siapa. Lalu mendadak semuanya berubah putih. Silau. Sangat
menyilaukan. Joshua harus menutup matanya agar dia tidak buta.
Saat Joshua merasa
cahaya itu sudah sedikit meredup, Joshua membuka matanya. Dan Joshua melihat
seorang laki laki. Tinggi, namun jangkung. Laki laki itu berjalan ke arah Joshua terduduk. Terus
mendekatinya. Sebelum Joshua melihat dengan jelas siapa laki laki itu, laki
laki itu berbicara.
“Joshua. Bagaimana
kabarmu, Nak?” tanya laki laki itu.
Mata Joshua melebar.
Antara terkejut dan tidak percaya. Sosok laki laki itu semakin jelas. Dan
Joshua tidak salah menduganya. Setelah Joshua mendengar suaranya, Joshua sangat
yakin dengan siapa Joshua berbicara.
“Bapak? Bapak?! Saya
baik baik saja Pak. Bapak kenapa bisa? Kenapa bisa saya bersama Bapak? Bapak,
Joshua rindu sama Bapak..” Joshua berkata terbata bata dan langsung beranjak
memeluk Bapaknya itu. Joshua ingin segera meluapkan rasa rindu kepada Bapaknya
setelah sekian lama Joshua tidak bertemu dengan Bapaknya.
Joshua merasa, Bapaknya
membalas pelukannya dengan erat. Segeralah Joshua membalas pelukan itu dengan
sangat erat juga. Joshua sangat rindu dengan Bapaknya.
“Kangen ya sama Bapak, Le?” tanya Pak Saptodi, panggilan akrab
Bapaknya Joshua.
“Kangen sekali, Pak.”
Jawab Joshua yang sekarang sudah berkaca kaca.
“Ikut Bapak aja, Le” ajak Pak Saptodi kepada anaknya ini.
“Kemana, Pak?” Joshua
bingung.
“Ke tempat yang sangat
indah. Tempat dimana Bapak tinggal selama ini. kamu pasti akan sangat
menyukainya. Mau ya, Le?” Jawab Pak
Saptodi sambil mengulurkan tangannya.
“Tapi...” Joshua lebih bingung
lagi.
“Sudahlah, Le. Bapak tau, Bapak selama ini salah
telah meninggalkanmu. Bapak sudah memberikan tugas yang sangat banyak kepadamu.
Bapak merasa sangat bersalah. Dan Bapak mohon, biarkan Bapak menebus kesalahan
Bapak selama ini. Kamu mau kan?”
“Tapi, Pak..” Joshua
semakin tidak tau harus bagaimana.
“Tugasmu sudah selesai,
suratmu itu. Sudah sampai di tangan yang tepat. Sekarang, saatnya kamu
beristirahat sama Bapak. Kamu mau ya? Kita nikmatin masa masa yang dulu sempat
hilang.” Ujar Pak Saptodi tenang. Seperti tak ada beban yang menempel di hati
laki laki tua itu.
“Sungguh?” Joshua
berseri seri ketika tau bahwa surat itu sudah sampai.
“Sungguh, Le. Dan tentang hadiah itu, hadiah itu
nanti akan sampai ke tangan orang itu. Perempuan itu.” Bapaknya serasa membaca
pikiran Joshua.
“Baiklah Pak. Saya akan
ikut dengan Bapak.” Jawab Joshua tenang. Joshua sadar, waktunya memang telah
habis.
“Ayo Le, raih tangan Bapak.” Ujar Pak
Saptodi.
“Mari Pak.” Jawab Joshua
serasa meraih tangan Bapaknya. Dan setelah Joshua meraih tangan Bapaknya, beban
Joshua serasa hilang. Lenyap. Dan kemudian, Joshua terbang dengan Bapaknya.
Kemana itu, yang jelas, Joshua akan bahagia. Joshua telah bersama dewa
Langit-nya.
Desa itu masih sepi.
Tapi terdengar ramai di sebuah rumah kecil dan sederhana. Berbondong bondong
warganya datang ke rumah itu. Terdengar suara tangisan seorang remaja perempuan
yang memecah kesunyian. Kesunyian yang mencekam. Tangisan itu bukan seperti
tangisan kesedihan. Tapi tangisan kehilangan, tangisan ketidakpercayaan, tangisan
keputus asaan. Ya, itu suara Neta.
“Tidak! Joshua nggak mungkin meninggal! Kamu
pasti bercanda! Nggak!” teriak Neta. Neta yang diberi kabar oleh Alex langsung
meronta. Dan langsung berlari menuju rumah Joshua.
“Sabar ya Neta, tapi
memang Joshua sudah nggak ada. Dia sudah tidur buat selamanya. Dia sudah
bersama dengan Tuhan sekarang. Sama Dewa Langit juga.” Alex berkata sambil
terus memegangi Neta yang meronta dan berteriak.
Neta tidak percaya
dengan apa yang dikabarkan oleh Alex. Neta ingin mendapat kepastian. Dengan
langkah kaki penuh keyakinan bahwa yang dikatakan Alex itu hanya bercanda, Neta
berlari ke arah rumah Joshua. Neta melihat banyak warga yang berkumpul di rumah
Joshua. Perasaan Neta menjadi sangat tidak enak.
Dan benar saja, di dalam
rumah mungil itu, seorang ibu yang sudah tua menangis tersedu. Di samping
seorang laki laki yang tertidur pulas di sebelahnya. Laki laki itu tidur dengan
wajah yang sangat manis. Dia tersenyum. Dan ya, itu Joshua.
Ibu yang ada di samping
Joshua itu berkata, “Neta ya?” sambil berusaha tersenyum.
Dari sorot matanya,
tergambar bahwa mata itu telah lelah menangis. Mata itu menyimpan begitu banyak
luka yang tersayat di hati Ibu itu. Namun, ada sebersit perasaan lega dan
bahagia dari sorot mata itu. “Iya Bu. Maaf, kenapa ya Bu?” Neta menjawab dengan
mata berkaca. Neta tidak mau meronta dan berteriak disini. Tidak pantas. Neta
berusaha menahan segala perasaan nya ini. Namun, tetap saja Neta manjatuhkan
air mata.
“Ini, Joshua bawa ini
tadi. Diatasnya ada tulisan. Monggo, silahkan
diambil.” Ibu itu berkata dengan pasrah.
Segera didekatinyalah
Ibu tua itu. Semakin dekat, Neta semakin sadar. Perempuan tua itu adalah Ibu
Joshua.
“Ini apa ya Bu?” Neta
berkata setelah Neta menerima bungkusan itu.
“Saya tidak tau, Nak.
Dibawa saja. Itu sudah pasti akan diberikan kepadamu.” Jawab Ibu itu seraya
meninggalkan ruang tengah yang mendadak menjadi pengap.
Neta juga memilih pergi
dari ruangan itu. Neta gerah melihat itu semua. Air mata yang sudah bersarang
banyak di pelupuk matanya, sudah tak lagi dapat dibendung. Namun, sebelum Neta
memutuskan untuk pergi. Neta berbalik melihat wajah Joshua. Tenang. Neta
mengecup kening Joshua perlahan. Menandakan perpisahan.
Neta berlari
meninggalkan kerumunan orang itu. Neta memilih berlari ke arah taman. Alex yang
tadi sepertinya memanggil namanya, tidak lagi Neta hiraukan. Saat ini, Neta
hanya ingin sendiri.
Sore itu, menjadi tak
biasa bagi Neta. Segalanya serasa berbeda. Tak lagi ada sesosok laki laki yang
mendongengkannya dongen tentang langit. Segalanya berubah sepi. Dibawah sinar
mentari sore yang hari itu agak tertutupi oleh awan cumolonimbus tebal, Neta membuka bungkusan kecil itu. Sebuah hiasan
dinding berbentuk bintang. Di bungkusan itu, ada sebuah catatan kecil.
Hai Netaku. Aku membelikan ini untukmu. Tidak sengaja, aku
melihat toko yang menjual ini. Ini khusus aku berikan buat kamu, biar kamu
nggak perlu lagi keluar rumah ditengah hawa malam yang dingin, hanya untuk
melihat bintang. Kamu cukup padamkan lampu kamarmu, dan jadilah bintang ini
bersinar terang. Dipasang ya.
Joshua.
Neta menangis sejadi
jadinya. Bendungannya sudah tak lagi kuat menahan serbuan air dari dalam
kelopak matanya. Dia menangis dalam diam. Dan sesaat setelah Neta tenang, Neta
menengadah melihat ke langit. Mendung..
Neta kemudian sadar, Joshua tidak suka Neta menangis. Karena tak ingin membuat
Joshua resah disana, Neta berhenti menangis. Neta memutuskan kembali ke
rumahnya. Rumah yang pasti akan membuat Neta kembali menangis.
Saat Neta membuka pintu
depan rumah, Neta sudah bersiap mendengar terjangan serangan bertubi tubi dari
mulut Papa dan Mama. Namun kali ini, Neta berusaha sekuat tenaga untuk tidak
mendengarnya.
Namun, ada yang berbeda
dengan suasana rumah malam ini. Rumah ini sepi. Seperti sudah tak berpenghuni.
Seperti negara yang sudah kalah perang karena warganya sudah tewas semua. Neta
bergidik ngeri karena pemikirannya yang barusan. Perlahan, Neta masuk ke dalam
rumahnya. Dan ternyata, di ruang tengah Neta sudah ditunggu oleh kedua orang
tuanya. Ada apa lagi ini... Neta
sudah pasrah.
”Sayang, duduk sini.”
Mama memanggil Neta. Segera saja, Neta duduk disebelah Mama. Namun Neta
mengambil jarak sedikit, kalau kalau saja tiba tiba Papa menembak kami berdua.
Hening. Seperti kuburan.
Tapi bedanya, disini keheningan yang tegang. Bukan menakutkan.
“Maafkan kami ya Neta.”
Akhirnya Papa ambil suara.
Neta yang tersentak, terbatuk
batuk dan sulit mengatur nafasnya kembali.
“Iya, maafkan Papa dan
Mama. Selama ini, Papa dan Mama selalu bertengkar. Kami nggak pernah memikirkan
kamu.” Mama menjawab dengan sedikit terisak.
“Ta.. ta.. tapi.. ada
apa? Bukankah kalian sudah memutuskan untuk bercerai? Aku nggakpapa kok.” Neta
menjawab seadanya. Walaupun Neta sedikit berharap apa yang dikatakan Papa dan
Mama bukan hanya berbohong.
“Papa serius. Papa masih
sayang sama Mama. Papa masih cinta sama Mama. Papa juga sayang sama kamu. Papa
gak sanggup kehilangan kalian. Papa minta maaf kalau selama ini Papa egois.
Papa minta maaf, Papa nggak pernah mikirin kalian. Papa minta maaf.” Papa
sepertinya sudah mulai meneteskan air mata.
“Mama juga. Selama ini,
Mama hanya dipenuhi oleh perasaan yang selalu saja tidak puas. Mama tidak
memikirkan bagaimana perasaan Papa, bagaimana perasaan kamu. Maafkan Mama.”
Mama menangis sejadi- jadinya.
Bola mata Neta membesar.
Neta tidak percaya. Akhirnya, selesai sudah perang ini. Segera saja, Neta
menjawab “Pa, Ma. Neta memaafkan kalian. Asalkan kalian memang mau berbaikkan.
Dan tidak akan bertengkar lagi.”
“Kami janji.” Papa dan
Mama serentak menjawab.
“Berpelukkan.” Neta
berteriak seraya merangkul kedua orang tuanya itu.
Setelah lama
berpelukkan, Mama bertanya kepada Neta “Oiya Neta, kenalin Mama sama teman kamu
yang namanya Joshua dong. Dia yang telah membuat kita semua menjadi utuh
kembali seperti ini.”
DEG!! Hati Neta kaget mendengar itu. Joshua? Bagaimana bisa? “Joshua? Bagaimana bisa? Joshua kecelakaan
Ma. Dia sudah meninggal tadi siang.”
Ketika orang tua tau
bahwa Joshua telah tiada, mereka langsung syok. Neta yang tidak tau ceritanya,
mencari tau. Dan akhirnya, orang tua Neta menceritakan semuanya kepada Neta.
Neta semakin terharu dengan apa yang telah diperbuat Joshua untuknya.
Dan malam itu, Neta
berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi di dalam hidupnya 2 minggu
terakhir. Bagaimana Neta mengenal Joshua. Bagaimana Neta mendengarkan Joshua
setiap kali Joshua berdongeng. Bagaimana mereka bisa begitu akrab. Bagaimana
bisa kehadiran Joshua telah membawa banyak perubahan berarti. Dan bagaimana
suasana bisa berputar 180 derajat hanya dalam hitungan menit. Tuhan memang adil. Dia membawa seorang
pergi, namun memberikan kebahagiaan di balik kepergian orang itu. Walaupun ada
kesedihan, disana ada juga kebahagiaan terselubung. Neta terus saja
mengingat semua itu. Neta pun menulis sebuah surat. Dan malam itu, pertama kali
dalam beberapa tahun terakhir, Neta tidur sambil tersenyum.
Paginya, saat pemakaman
Joshua selesai, dan semua orang telah pulang, Neta datang. Membawa bunga, surat
dan balon. Neta datang bersama orang tuanya, namun mereka menunggu di mobil. Mereka
ingin memberi Neta privasi. Neta
melangkah menuju tempat dimana Joshua terbaring selamanya. Neta telah berjanji,
dirinya tidak akan menangis lagi hari ini. Bunga yang Neta bawa, ditaruhnya
diatas gundukan makam Joshua. Neta duduk terdiam, di sebelah makam Joshua. Sobat, terimakasih atas segalanya. You’re my
best friend ever. Bahagialah disana. Lalu setelah berdiam diri lama, Neta
memutuskan untuk melepaskan balon isi nitrogen yang dibawanya. Sebelum melepaskannya,
Neta mengikatkan sepucuk surat dibawahnya.
Terimakasih atas suratmu itu Josh, terimakasih atas waktunya
selama ini, atas dongengmu yang indah, atas hati dan imajinasimu.
Kini, kau telah menjadi Dewa Langit-ku. Tuntun aku, terangi
aku, indahkanlah langit malam ku dengan cahaya kerlipmu.
Joshua, Dewa Langitku, bahagialah. Jadilah bintang paling
terang di angkasa sana. :)
Neta. :)
Dan dilepaskannya balon
itu. Balon itu terbang, menembus awan dan langit. Dan nantinya, akan sampai ke
Kerajaan Langit, dimana Joshua dan Bapaknya berada. Lalu Neta pergi meninggalkan tempat pemakaman
Joshua.
Setelah dari makam
Joshua, orang tua Neta mengajaknya jalan jalan. Sesaat Neta teringat kepada
Joshua. Dan lagu “Leaving on the Jetplane” milik Chantal Kreviazuk pun diputar
di radio. Mata Neta berkaca-kaca. Ini adalah lagu kesukaan Joshua. Terimakasih Joshua. Dan Neta pun tau,
bahwa Joshua sudah membaca isi suratnya. Dan juga bahwa Dewa Langit-nya ini
akan selalu bersamanya.
Netapun ikut
bersenandung seiring dengan lagu itu.
”Now, the time has come to leave you. One more time, oh,
let me kiss you. And close your eyes, and I’ll be on my way..”
Dan sebuah bintang pun
berkelip di langit tanpa disadari Neta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar