Selasa, 09 Oktober 2012

Dewa Langitku, bahagialah...


Mata itu semakin sayu. Tak ada lagi kehangatan yang terpancar dari mata itu. Kosong. Namun pandangan matanya terarah ke sebuah gambar. Sebuah gambar yang menggambarkan sebuah kebahagiaan. Ya, itulah foto dirinya dengan keluarganya saat dia berulang tahun yang ke tiga tahun. Itu adalah saat dimana kita semua berkumpul, dengan cinta diantara kita. Satu keluarga utuh, layaknya keluarga yang lainnya. Perasaan itu kembali. Perasaan senang yang mungkin selama ini jarang dia rasakan. Perasaan bahagia diantara keluarga yang lengkap. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Sayup sayup ia mendengar, suara gebrakan meja dari lantai bawah. Senyuman itu menghilang tak berbekas. Hentikan. Aku mohon. Tolong berhenti.. Aku sudah tidak kuat. Tolong. Saya mohon ya Tuhan... dan sebulir air mata terus jatuh menetes,  setiap mendengar teriakan yang tak kunjung mereda.
BRAK!! Neta terjatuh dari tempat tidurnya. Ternyata Neta tertidur dalam keadaan menangis hingga esok pagi ini. Dan Neta tersadar, bahwa dirinya sudah terlambat masuk sekolah. Netapun segera bergegas. Dan melupakan kejadian semalam.
“Neta! Kamu terlambat lagi?! Sebenarnya kamu ini ngapain sih? Nge game? Nonton TV? Atau ngapain?!” bentak Pak Sarwono.
“Maafkan saya Pak, saya hanya tidak bisa tidur tadi malam.” Jawab Neta pelan. Neta melamun. Namun segera sadar dengan bentakan Pak Sarwono.
”Alasan kamu! Apa yang menyebabkan kamu tidak bisa tidur? Setan? Hantu? Maling? Bom? Atau apa?!” tegas Pak Sarwono yang nadanya semakin kali semakin keras. Sepertinya guru Neta yang satu ini emosinya sudah mencapai klimaks.
“Tidak tau Pak. Saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Neta lemah.
“Itu yang kamu ucapkan kemarin. Lebih baik kamu mempersiapkan alasan yang lebih bagus lagi. Ini terakhir kalinya kamu terlambat. Sekali lagi, saya akan menskors kamu. Dengar?!” jawab Pak Sarwono seraya meninggalkan ruang Kepala Sekolah.
“Baik Pak.” Jawab Neta pelan. Andai saja, Bapak tau apa yang terjadi. Bapak tidak akan berkata demikian. Pikir Neta sambil menahan air mata itu menuruni pipinya. Hari itu Neta pulang dengan takut. Takut lagi lagi dia harus mendengar setiap teriakkan yang menyayat hatinya.
“Neta! Main yuk.” Ajak Alex sahabat karibnya. Walaupun umur Alex lebih tua 1 tahun dari pada Neta, mereka telah bersahabat sejak mereka berada di TK. Sekarang, Neta umur 12 dan Alex umur 13. Namun, mereka tetap satu kelas. Karena Alex telat masuk SD. Hal itu juga dikarenakan oleh Neta. Alex tidak mau masuk SD kalau tidak ada Neta.
“Ayo! Tapi main apa Lex?” jawab Neta bingung. Sudah lama dia tidak pernah memakai kata “kak” dalam hal memanggil Alex. Terlalu tua..  Selalu seperti itu jawaban Alex kalau Neta memanggilnya dengan menggunakan “kak”. Tetapi Neta selalu menemukan sesosok kakak yang selama ini Neta cari dalam diri Alex. Sesosok yang menyayangi Neta.
“Gimana kalau petak umpet? Seru juga kan kalau cuma berdua. Ya nggak?” jawab Alex yang duduk di ayunan sedang memandangi langit sore itu dari taman perumahan.
“Boleh! Siapa takut?” jawab Neta antusias sambil mengikuti arah pandang mata Alex.
“Indah.......” gumam Neta.
“Memang indah. Dulu, sewaktu Mama ku masih ada, aku sering kesini dan melihat cahaya matahari sore hari. Kadang aku juga melihat Venus kalau aku dan Mama sedang beruntung. Sekarang, Mama sudah jadi bintang disana.” Kata Alex sambil menunjuk ke atas.
“Alex kangen ya sama Mama? Yang sabar ya, Alex. Besok Alex juga bakal ketemu lagi sama Mama Alex kan? Seperti kata Alex dulu.” Jawab Neta kasihan dan sedih melihat sahabatnya tiba tiba menjadi murung.
“Iya, Alex pasti bertemu lagi sama Mama.” Jawab Alex pelan dan sedikit berharap.
“Kena! Alex jadi ya? Hehe, sudah sekarang Neta mau ngumpet dulu.” Teriak Neta yang ternyata sudah berlari meninggalkan Alex.
 “Ah curang kamu! Baiklah. Aku pasti akan menemukanmu Neta! 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9..10.. sudah ya? Oke, aku mulai mencarimu, Net!” teriak Alex sambil berlari. Sore itu menjadi sore yang indah untuk mereka berdua. Neta pun sekilas melupakan kejenuhannya di rumah.
Alex dan Neta sama-sama datang dari keluarga yang mapan. Alexandra Aurelia Wijaya adalah seorang keturunan dari pasangan pemilik perusahaan mebel terkenal di Yogyakarta. Namun, saat Alex berumur 5 tahun, Alex harus menerima kenyataan. Bahwa kedua orang tuanya meninggal saat mobil yang kedua orang tuanya tumpangi menabrak pembatas jalan dan mobil itu masuk ke dalam jurang. Saat itu, saat Alex melihat kedua orangnya terbaring lemah dan tertutup oleh kain, Alex berpikir bahwa mereka berdua tidur. Namun, seiring berjalannya waktu, Alex tau bahwa mereka sudah pergi bersama dengan Tuhan. Itulah yang menyebabkan Alex selalu menjadi lebih dewasa ketika ia berkumpul dengan teman temannya. Alex lebih mandiri. 
Sedangkan Neta adalah anak dari Alexander Gunawan dan Ignatia Renata.  Neta adalah anak tunggal. Namun, sudah lama orang tua Neta tidak pernah akur dalam segala hal. Mereka selalu bertengkar. Neta tak mengerti, mengapa mereka selalu seperti itu. Yang jelas, Neta selalu tersiksa ketika orang tuanya sedang bertengkar. Rasanya, pengen mati saja kalau mendengar pertengkaran mereka.
Sekarang ini, kehidupan di rumah Neta hanya dipenuhi oleh keributan dan masalah. Tak pernah ada kedamaian. Masalah sedikit, bisa menjadi masalah besar. Neta menjadi lebih sering berada di luar rumah. Entah itu di rumah Alex ataupun hanya sekedar memandangi cahaya kemerahan yang dibuat oleh matahari di sore hari. Orang tua nya pergi jam 7 pagi, pulang jam 8 malam. Lalu mereka akan bertengkar. Selalu seperti itu. Tak pernah ada kata ‘damai’ ditengah mereka kini.
Dulu setelah kepergian orang tua Alex, Alex menjadi pendiam. Neta bingung. Karena Neta memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Orang dirumah Alex berkata kepada Neta, bahwa orang tua Alex tidur untuk selamanya. Namun Neta tidak mengerti maksudnya. Neta hanya mencoba menghibur dan membuat Alex kembali seperti dulu. Membuat Alex seceria dulu. Perlahan tapi pasti, Alex kembali menjadi Alex yang dulu. Meskipun Alex masih sedikit kaku dan diam. Tetapi Alex sudah bisa sedikit berubah dari murungnya. Dan Neta pun senang karena itu. Dan sejak saat itu, Neta semakin dekat dengan Alex. Karena Alex lah satu satunya keluaga yang dia punya. Dan semakin lama, mereka menjadi sulit dipisahkan.
Hari itu kelas VIID mendapatkan seorang anak baru. Murid ini mendapatkan beasiswa sehingga dia bisa masuk ke sekolah ini. Namanya Joshua. Joshua mempunyai wajah yang manis dan ganteng. Keperawakannya pun tegap dan tinggi.
“Joshua?” tanya Neta malu malu.
“Iya?” jawab Joshua polos.
“Aku boleh berkenalan tidak?” tanya Neta yang sekarang mukanya berubah menjadi lebih merah.
“Boleh. Aku Joshua. Kamu Neta ya?” jawab Joshua yang ternyata juga tersipu sambil menjabat tangan Neta.
“iya, kamu tau? Wah, hebat.” Jawab Neta perlahan namun dari gaya berbicara nya sudah terlihat lebih ringan.
“Iya, aku kan mempunyai semacam alat didalam otakku. Jadinya aku pintar menebak orang. Dikasih sama Dewa Langit  nih. Maaf aku agak aneh. Tapi aku memang menyukai segala sesuatu tentang langit. Jadinya aku suka membuat cerita tentang dewa langit.” Jawab Joshua sambil menunjuk ke kepalanya.
“Dewa Langit?” tanya Neta antusias.
“Iya, Dewa Langit. Kekanak kanakkan ya? Maafkan aku. Memang imajinasiku terlalu berlebihan.” Jawab Joshua.
“Dewa Langit itu baik ya?” tanya Neta terus menunggu jawaban Joshua. Joshua yang sadar bahwa kali ini ada orang yang antusias dengan khayalannya, menjadi sangat senang. Segeralah Joshua menjawab dengan sangat senang.
“Dia sangat baik. Bahkan dia mau memberikan alat ini untukku. Biasanya dia menggunakan  alat ini untuk mencari bintang di langit langit. Mencari bintang yang baru muncul” Jawab Joshua.
“Ceritakan semua tentang Dewa Langit-mu itu, aku akan sangat senang mendengarnya.” Jawab Neta begitu tertarik. Karena baginya, imajinasi seseorang adalah hal paling menarik di dunia ini.
“Baiklah!” jawab Joshua girang.
Obrolan mengenai dewa langit terus berlanjut. Joshua dan Neta pun menjadi semakin akrab. Dan Neta merasa, ada yang lain dalam diri Joshua. Netapun sedikit berharap, persahabatan ini akan bertahan sampai lama.
“Ternyata rumahmu ada didekatku ya? Cuma dibelakang kompleks rumahku.” Tanya Neta kepada Joshua. “Iya, aku juga nggak nyangka.” Jawab Joshua santai.
“Neta!” teriak Alex yang berlari mengejar Neta dan Joshua.
“ah! Kamu jahat banget. Ninggalin aku.” Alex berkata sambil mengatur nafasnya.
“Habisnya kamu dicariin muter sekolah juga nggak ketemu. Yaudah, aku duluan aja. Lagian ya ternyata si Joshua ini rumahnya dibelakang kompleks rumah kita. Jadi sejalan.” Cerita Neta panjang lebar.
“Oiya? Wah seru dong. Bisa barengan terus. Asik, dapet temen, Net.” Jawab Alex antusias.
“Iya, Lex. Nggak nyangka juga lho aku.” Jawab Neta.
“Eh Neta! Joshua! Maaf ya, hari ini aku harus pulang cepetan. Aku mau pergi les. Aku lupa, aku mulai les soalnya bentar lagi kan aku mau ikut semacam lomba olimpiade. Duluan ya Net, Joshua!” kata Alex.
 “Oke, sana pulang. Belajar yang rajin. Menangin tu olimpiade.” Joshua menyabotase Neta ketika Neta hendak menjawab perkataan Alex.
“Baiklah!” Alex berteriak sambil berlari menuju rumahnya.
“Rumahmu dimana sih?” tanya Neta penasaran.
“Ini lho, masuk ke gang sini. Kecil sih rumahnya, aku bukan orang mapan. Keluargaku hidup sederhana. Bapakku sudah tidak ada ketika aku berumur 7 tahun. Dan sejak itulah aku menjadi senang dengan Dewa Langit. Karena bagiku, dialah Dewa Langit-ku. Ah sudahlah, imajinasiku keterlaluan.” Jawab Joshua sedikit tersipu.
 “Oh begitu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat itu semua.” Neta menjawab dengan kepala sedikit menunduk.
“Enggakpapa kok. Aku juga tau, kalau kamu belum tau. Kamu kan enggak punya ini alat.” Jawab Joshua sambil mengelus kepala nya sendiri.
“Yasudahlah, aku pulang ya. Daah” Neta pergi sambil melambaikan tangannya.
“Daaah.” Joshua menjawab dan ikut melambaikan tangannya.
“Ngomong-ngomong, imajinasimu bagus. Aku suka.” Teriak Neta.
“Terimakasih!” Joshua membalasnya dengan berteriak tanpa mampu menyembunyikan perasaannya.
Joshua yang tengah berjalan pulang, tersenyum sendiri. Jadi, sebahagia ini ya punya teman itu. Mereka, teman pertamaku. Jadi, aku akan menjaga mereka bagaimana itu caranya. Dan Neta, Neta adalah satu satunya orang yang mau menyukai imajinasinya. Bagi Joshua, Neta dan Alex adalah teman pertama yang mengerti keadaan Joshua.  Karena selama ini, Joshua selalu dijauhi oleh teman temannya. Karena Joshua yatim, miskin, dan juga aneh.
Saat Neta kembali ke rumahnya, sang surya telah kembali ke peraduannya. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Sebentar lagi, perang akan meletus.. Neta berkata dalam hati. Neta memilih untuk masuk ke dalam kamar. Mengunci dirinya di dalam. Seakan kamar itu kedap suara. Neta mendengar suara mobil masuk ke garasi. Neta sudah bersiap untuk mendengar perang yang benar benar tak ingin dia dengar.
“Papa itu! Suka nya ngatur ngatur Mama! Memangnya Papa udah sempurna?! Papa ngelarang Mama ini itu, apa Papa pernah merhatiin Mama?” teriak Mama.
“Kamu itu tau apa?! Saya melakukan ini untuk kebaikan kamu! Kamu saja yang tidak pernah mengerti saya! Selama ini kamu pikir saya menikahi kamu untuk apa?! Saya pikir, kamu itu baik. Manis. Nurut sama suami. Ternyata, kamu itu Cuma mau harta!” teriak Papa lebih keras lagi.
“Saya minta cerai!” Mama membanting pintu kamar.
“Oke! Saya akan ceraikan kamu besok!” Teriak Papa yang juga membanting pintu.
Pelupuk mata nya sudah kembali dipenuhi air. Air mata yang sudah kesekian kalinya ditahan agar tidak keluar. Cerai? Bendungannya sudah tak bisa menahan air yang terus membanjiri matanya. Ia ingin sekali berteriak. Namun ia tak punya kekuatan untuk melakukannya. Dan sekarang, bantal lah yang menjadi temannya. Neta menangis hingga tertidur. Jalur air mata yang dibiarkan menetes melalui pipinya masih tergambar jelas ketika Neta bangun. Matanya sedikit bengkak. Namun sekali lagi, tak ada yang memperhatikannya.
“Pagi Joshua. Yuk berangkat.” Sapa Neta dan Alex.
“Ayo. Aku sudah siap.” Jawab Joshua.
“Yang duluan sampai sekolah, dia yang menang!” teriak Neta sambil berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Namun, Alex yang sudah terbiasa langsung berlari mengejar.
“CURANG!!” Joshua berteriak dan segera mengejar Neta dan Alex yang spertinya bersengkongkol untuk mengerjai dirinya.
Dan sekali lagi, Neta merasa bahagia diantara kedua sahabatnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ada ditengah kedua orang tuanya dan dirinya. Kebahagiaan diantara orang orang yang mengalami broken home seperti dirinya.
Sore itu, Alex harus pergi ke Semarang bersama Kakeknya. Jadi,  Alex tidak bisa menemani Neta bermain. Neta akhirnya sendirian di taman. Tapi tiba tiba seseorang menepuknya ketika Neta sedang duduk di kursi taman. Memandangi langit yang mulai memerah.
“Net! Ngapain sendiran? Aku temenin ya?” kata Joshua yang sudah berhasil membuat Neta terlonjak kaget.
“Joshua! Ngagetin aja kamu! Astaga. Boleh.” Jawab Neta seadanya karena Neta berpura pura marah kepada Joshua.
“Duduk ya. Distorsi cahaya matahari pada sore hari membuat langit hari ini indah ya. Pantas kamu betah ada disini. Aku baru tau kalau ternyata ada spot sebagus ini disini. Langit itu memang menyimpan sejuta misteri yang indah. Contohnya ya langit sore ini. Dewa Langit memang sangat pintar dalam mengatur ini semua.” Jawab Joshua dengan memandang kagum langit sore itu.
“Iya, memang indah. Dewa Langit memang hebat dalam berkarya. Aku suka dengan karyanya. Sangat.” Jawab Neta. Pandangannya menerawang.
“Eh kamu tadi kenapa sih Net? Kok mata kamu bengkak? Kamu ada masalah ya? Boleh denger nggak? Aku bisa dengerin kok. Ya siapa tau aku bisa sedikit ngehilangin beban kamu.” Ucap Joshua. Kata kata barusan seolah menyihir Neta. Neta menjadi salah tingkah. Kenapa dia bisa tau? Dia baru mengenal aku 2 hari. Dia sudah bisa melihat aku menangis? Bahkan, Alex saja jarang sekali menyadari hal itu. Pikir Neta. Karena Neta sudah mati matian menutupi segala hal yang terjadi di rumah. Dia tak ingin ada yang tau tentang hal itu. Berbongkah bongkah es batu telah Neta habiskan untuk mengompres matanya. Selama ini trik ini berhasil. Tapi kali ini, ada yang bisa membacanya.
”Hmm.. nggak ada apa apa kok. Hehe.” Jawab Neta sesantai mungkin.
“Sudahlah, jangan bohong sama aku. Aku tau. Alat ini sudah memberi tauku.” Jawab Joshua sambil menunjuk kearah kepalanya. Neta berusaha mempertimbangkan apakah ia akan memberi tahu Joshua yang sebenarnya atau tidak. Akhirnya, Neta memilih menceritakannya.
Joshua mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Neta. Seakan dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Neta. Seumur Joshua hidup, baru kali ini dia mendengar cerita seperti itu. Joshua bergidik ngeri. Joshua tidak tau harus bagaimana kalau saja itu terjadi di keluarganya.
Neta menceritakan semuanya kepada Joshua. Entah kenapa, Neta merasa lega setelah melakukannya. Serasa, beban yang selama ini dia topang terlepas begitu saja. Lenyap. Bebas. Beban itu pergi lenyap entah kemana. Neta menyadari, Neta telah membuka aib keluarganya. Namun sepertinya Joshua bukanlah orang yang harus ditakuti. Joshua takkan pernah membongkar rahasia ini kepada orang lain. 
Dan sisa sore ini dihabiskan Neta dan Joshua dengan saling bercerita. Joshua bercerita tentang Bapaknya, tentang Ibunya, tentang beratnya ditinggal seorang bintang penuntun. Tentang perjuangannya agar Joshua bisa masuk ke sekolah mereka sekarang ini. Joshua menceritakan semuanya. Hal yang sangat amat rahasia yang jarang Joshua bagi kepada siapapun. Namun, entah mengapa, Joshua merasa nyaman saat bercerita dengan Neta.
Saat mereka harus pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, Joshua mengecup pelan kening Neta. Memberinya semangat.
Setelah kejadian di taman itu, Neta dan Joshua menjadi semakin dekat. Bahkan ada yang berkata bahwa mereka berdua itu pacaran. Namun, mereka tidak pernah menganggap hal itu. Mereka tetap bersahabat. Karena sahabat itulah yang terbaik.
Malam itu, Neta kembali mendengar suara tak mengenakkan dari bawah. Orang tua Neta akan bercerai. Bahkan surat cerainya sudah ada. Tinggal menunggu persidangan. Neta menatap keluar jendela. Menatap langit. Abu abu. Lalu dia berkata didalam hati. Dewa Langit, kalau kau memang baik, munculkanlah bintang satu saja saat ini. Aku sedang sedih. Hiburlah aku, dan aku mohon, biarlah Joshua bisa melihat keindahan bintang itu. Sekedar untuk mengobati rasa rindunya kepada Bapaknya.
Malam ini, Joshua mencoba mengingat semua hal yang telah diceritakan oleh Neta kepadanya. Dia mencoba berpikir, bagaimana caranya agar orang tua Neta dapat berbaikan. Lalu Joshua pergi ke depan rumahnya, melihat ke langit. Dewa langit, jikalau memang dirimu ada. Tunjukkan lah satu bintangmu. Berilah aku semangat dengan bintangmu itu. Beri aku petunjuk. Dan biarlah Neta bisa  melihatnya, agar dia bisa kuat, menghadapi ini semua.
Dan sebuah bintangpun bersinar terang. Diantara abu-abunya langit itu.
Setelah seminggu berpikir, Joshua menemukan cara untuk mendamaikan orang tua Neta. Joshua tidak tau, apakah surat ini akan mendamaikan mereka atau justru memperburuk keadaan karena ada orang yang mencampuri urusan mereka. Namun, Joshua ingin berusaha. Joshua ingin mencoba. Karena segala sesuatu jika belum dicoba, tidak akan tau hasilnya seperti apa. Dan Joshua yakin, segala sesuatu yang dimulai dengan keyakinan, akan selalu berbuah baik.
Joshua mengirimkan surat itu lewat kantor pos. Karena Joshua tidak mungkin datang ke tempat dimana orang tua Neta bekerja, karena Joshua hanya mempunyai sebuah sepeda tua untuk berpergian lumayan jauh. Itupun juga sepeda peninggalan Bapaknya. Sedangkan rumahnya ada di daerah Jogja, dan kantor kedua orang tua Neta ada di Bantul. Itu berarti, kalau Joshua ingin mengantarkannya secara langsung, Joshua harus berkendara kurang lebih 20 km. Jarak yang sangat jauh.  Jadi, Joshua memutuskan untuk mengirimkan saja surat itu.
Di perjalanan pulang, Joshua melihat ada toko yang menjual berbagai macam hiasan yang bertemakan langit. Joshua teringat Neta. Sesaat, Joshua merogoh koceknya. Dua puluh ribu.. semoga ini cukup untuk membelikan Neta hadiah..
Joshua memasuki toko itu. Sederhana memang toko itu. Semoga harganya tidak terlalu mahal. Kemudian, Joshua melihat lihat. Joshua melihat sebuah hiasan dinding berbentuk bintang. Hiasan ini bisa bercahaya dalam gelap, karena mengandung fosfor. Joshua tertarik untuk membeli itu. Pasti Neta suka dengan hadiah ini.. Segera saja, Joshua membawa hiasan ini ke kasir. Dan ternyata harganya hanya tujuh belas ribu. Joshua sangat bersyukur karena itu. Setelah dibungkus rapi, Joshua menuliskan sesuatu di kertas dan menempelnya diatas bungkusan itu.
Saat keluar dari toko itu, Joshua segera mengambil sepeda nya yang terparkir di seberang jalan. Sebegitu senangnya, Joshua berlari kecil sambil menyebrangi jalan, tanpa menyadari ada truk besar yang sedang melaju kencang di sebelahnya.
CIIIIIIIIIIIIITTTTT!!! BRAAAAAAAK!!!
Mendadak Joshua tidak bisa melihat. Hitam dimana mana. Joshua hanya bisa mendengar jeritan beberapa orang, entah itu siapa. Lalu mendadak semuanya berubah putih. Silau. Sangat menyilaukan. Joshua harus menutup matanya agar dia tidak buta.
Saat Joshua merasa cahaya itu sudah sedikit meredup, Joshua membuka matanya. Dan Joshua melihat seorang laki laki. Tinggi, namun jangkung. Laki laki  itu berjalan ke arah Joshua terduduk. Terus mendekatinya. Sebelum Joshua melihat dengan jelas siapa laki laki itu, laki laki itu berbicara.
“Joshua. Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya laki laki itu.
Mata Joshua melebar. Antara terkejut dan tidak percaya. Sosok laki laki itu semakin jelas. Dan Joshua tidak salah menduganya. Setelah Joshua mendengar suaranya, Joshua sangat yakin dengan siapa Joshua berbicara.
“Bapak? Bapak?! Saya baik baik saja Pak. Bapak kenapa bisa? Kenapa bisa saya bersama Bapak? Bapak, Joshua rindu sama Bapak..” Joshua berkata terbata bata dan langsung beranjak memeluk Bapaknya itu. Joshua ingin segera meluapkan rasa rindu kepada Bapaknya setelah sekian lama Joshua tidak bertemu dengan Bapaknya.
Joshua merasa, Bapaknya membalas pelukannya dengan erat. Segeralah Joshua membalas pelukan itu dengan sangat erat juga. Joshua sangat rindu dengan Bapaknya.
“Kangen ya sama Bapak, Le?” tanya Pak Saptodi, panggilan akrab Bapaknya Joshua.
“Kangen sekali, Pak.” Jawab Joshua yang sekarang sudah berkaca kaca.
“Ikut Bapak aja, Le” ajak Pak Saptodi kepada anaknya ini.
“Kemana, Pak?” Joshua bingung.
“Ke tempat yang sangat indah. Tempat dimana Bapak tinggal selama ini. kamu pasti akan sangat menyukainya. Mau ya, Le?” Jawab Pak Saptodi sambil mengulurkan tangannya.
“Tapi...” Joshua lebih bingung lagi.
“Sudahlah, Le. Bapak tau, Bapak selama ini salah telah meninggalkanmu. Bapak sudah memberikan tugas yang sangat banyak kepadamu. Bapak merasa sangat bersalah. Dan Bapak mohon, biarkan Bapak menebus kesalahan Bapak selama ini. Kamu mau kan?”
“Tapi, Pak..” Joshua semakin tidak tau harus bagaimana.
“Tugasmu sudah selesai, suratmu itu. Sudah sampai di tangan yang tepat. Sekarang, saatnya kamu beristirahat sama Bapak. Kamu mau ya? Kita nikmatin masa masa yang dulu sempat hilang.” Ujar Pak Saptodi tenang. Seperti tak ada beban yang menempel di hati laki laki tua itu.
“Sungguh?” Joshua berseri seri ketika tau bahwa surat itu sudah sampai.
“Sungguh, Le. Dan tentang hadiah itu, hadiah itu nanti akan sampai ke tangan orang itu. Perempuan itu.” Bapaknya serasa membaca pikiran Joshua.
“Baiklah Pak. Saya akan ikut dengan Bapak.” Jawab Joshua tenang. Joshua sadar, waktunya memang telah habis.
“Ayo Le, raih tangan Bapak.” Ujar Pak Saptodi.
“Mari Pak.” Jawab Joshua serasa meraih tangan Bapaknya. Dan setelah Joshua meraih tangan Bapaknya, beban Joshua serasa hilang. Lenyap. Dan kemudian, Joshua terbang dengan Bapaknya. Kemana itu, yang jelas, Joshua akan bahagia. Joshua telah bersama dewa Langit-nya.
Desa itu masih sepi. Tapi terdengar ramai di sebuah rumah kecil dan sederhana. Berbondong bondong warganya datang ke rumah itu. Terdengar suara tangisan seorang remaja perempuan yang memecah kesunyian. Kesunyian yang mencekam. Tangisan itu bukan seperti tangisan kesedihan. Tapi tangisan kehilangan, tangisan ketidakpercayaan, tangisan keputus asaan. Ya, itu suara Neta.
 “Tidak! Joshua nggak mungkin meninggal! Kamu pasti bercanda! Nggak!” teriak Neta. Neta yang diberi kabar oleh Alex langsung meronta. Dan langsung berlari menuju rumah Joshua.
“Sabar ya Neta, tapi memang Joshua sudah nggak ada. Dia sudah tidur buat selamanya. Dia sudah bersama dengan Tuhan sekarang. Sama Dewa Langit juga.” Alex berkata sambil terus memegangi Neta yang meronta dan berteriak.
Neta tidak percaya dengan apa yang dikabarkan oleh Alex. Neta ingin mendapat kepastian. Dengan langkah kaki penuh keyakinan bahwa yang dikatakan Alex itu hanya bercanda, Neta berlari ke arah rumah Joshua. Neta melihat banyak warga yang berkumpul di rumah Joshua. Perasaan Neta menjadi sangat tidak enak.
Dan benar saja, di dalam rumah mungil itu, seorang ibu yang sudah tua menangis tersedu. Di samping seorang laki laki yang tertidur pulas di sebelahnya. Laki laki itu tidur dengan wajah yang sangat manis. Dia tersenyum. Dan ya, itu Joshua.
Ibu yang ada di samping Joshua itu berkata, “Neta ya?” sambil berusaha tersenyum.
Dari sorot matanya, tergambar bahwa mata itu telah lelah menangis. Mata itu menyimpan begitu banyak luka yang tersayat di hati Ibu itu. Namun, ada sebersit perasaan lega dan bahagia dari sorot mata itu. “Iya Bu. Maaf, kenapa ya Bu?” Neta menjawab dengan mata berkaca. Neta tidak mau meronta dan berteriak disini. Tidak pantas. Neta berusaha menahan segala perasaan nya ini. Namun, tetap saja Neta manjatuhkan air mata.
“Ini, Joshua bawa ini tadi. Diatasnya ada tulisan. Monggo, silahkan diambil.” Ibu itu berkata dengan pasrah.
Segera didekatinyalah Ibu tua itu. Semakin dekat, Neta semakin sadar. Perempuan tua itu adalah Ibu Joshua.
“Ini apa ya Bu?” Neta berkata setelah Neta menerima bungkusan itu.
“Saya tidak tau, Nak. Dibawa saja. Itu sudah pasti akan diberikan kepadamu.” Jawab Ibu itu seraya meninggalkan ruang tengah yang mendadak menjadi pengap.
Neta juga memilih pergi dari ruangan itu. Neta gerah melihat itu semua. Air mata yang sudah bersarang banyak di pelupuk matanya, sudah tak lagi dapat dibendung. Namun, sebelum Neta memutuskan untuk pergi. Neta berbalik melihat wajah Joshua. Tenang. Neta mengecup kening Joshua perlahan. Menandakan perpisahan.
Neta berlari meninggalkan kerumunan orang itu. Neta memilih berlari ke arah taman. Alex yang tadi sepertinya memanggil namanya, tidak lagi Neta hiraukan. Saat ini, Neta hanya ingin sendiri.
Sore itu, menjadi tak biasa bagi Neta. Segalanya serasa berbeda. Tak lagi ada sesosok laki laki yang mendongengkannya dongen tentang langit. Segalanya berubah sepi. Dibawah sinar mentari sore yang hari itu agak tertutupi oleh awan cumolonimbus tebal, Neta membuka bungkusan kecil itu. Sebuah hiasan dinding berbentuk bintang. Di bungkusan itu, ada sebuah catatan kecil.
Hai Netaku. Aku membelikan ini untukmu. Tidak sengaja, aku melihat toko yang menjual ini. Ini khusus aku berikan buat kamu, biar kamu nggak perlu lagi keluar rumah ditengah hawa malam yang dingin, hanya untuk melihat bintang. Kamu cukup padamkan lampu kamarmu, dan jadilah bintang ini bersinar terang. Dipasang ya.
Joshua.
Neta menangis sejadi jadinya. Bendungannya sudah tak lagi kuat menahan serbuan air dari dalam kelopak matanya. Dia menangis dalam diam. Dan sesaat setelah Neta tenang, Neta menengadah melihat ke langit. Mendung.. Neta kemudian sadar, Joshua tidak suka Neta menangis. Karena tak ingin membuat Joshua resah disana, Neta berhenti menangis. Neta memutuskan kembali ke rumahnya. Rumah yang pasti akan membuat Neta kembali menangis.
Saat Neta membuka pintu depan rumah, Neta sudah bersiap mendengar terjangan serangan bertubi tubi dari mulut Papa dan Mama. Namun kali ini, Neta berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendengarnya.
Namun, ada yang berbeda dengan suasana rumah malam ini. Rumah ini sepi. Seperti sudah tak berpenghuni. Seperti negara yang sudah kalah perang karena warganya sudah tewas semua. Neta bergidik ngeri karena pemikirannya yang barusan. Perlahan, Neta masuk ke dalam rumahnya. Dan ternyata, di ruang tengah Neta sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya. Ada apa lagi ini... Neta sudah pasrah.
”Sayang, duduk sini.” Mama memanggil Neta. Segera saja, Neta duduk disebelah Mama. Namun Neta mengambil jarak sedikit, kalau kalau saja tiba tiba Papa menembak kami berdua.
Hening. Seperti kuburan. Tapi bedanya, disini keheningan yang tegang. Bukan menakutkan.
“Maafkan kami ya Neta.” Akhirnya Papa ambil suara.
Neta yang tersentak, terbatuk batuk dan sulit mengatur nafasnya kembali.
“Iya, maafkan Papa dan Mama. Selama ini, Papa dan Mama selalu bertengkar. Kami nggak pernah memikirkan kamu.” Mama menjawab dengan sedikit terisak.
“Ta.. ta.. tapi.. ada apa? Bukankah kalian sudah memutuskan untuk bercerai? Aku nggakpapa kok.” Neta menjawab seadanya. Walaupun Neta sedikit berharap apa yang dikatakan Papa dan Mama bukan hanya berbohong.
“Papa serius. Papa masih sayang sama Mama. Papa masih cinta sama Mama. Papa juga sayang sama kamu. Papa gak sanggup kehilangan kalian. Papa minta maaf kalau selama ini Papa egois. Papa minta maaf, Papa nggak pernah mikirin kalian. Papa minta maaf.” Papa sepertinya sudah mulai meneteskan air mata.
“Mama juga. Selama ini, Mama hanya dipenuhi oleh perasaan yang selalu saja tidak puas. Mama tidak memikirkan bagaimana perasaan Papa, bagaimana perasaan kamu. Maafkan Mama.” Mama menangis sejadi- jadinya.
Bola mata Neta membesar. Neta tidak percaya. Akhirnya, selesai sudah perang ini. Segera saja, Neta menjawab “Pa, Ma. Neta memaafkan kalian. Asalkan kalian memang mau berbaikkan. Dan tidak akan bertengkar lagi.”
“Kami janji.” Papa dan Mama serentak menjawab.
“Berpelukkan.” Neta berteriak seraya merangkul kedua orang tuanya itu.
Setelah lama berpelukkan, Mama bertanya kepada Neta “Oiya Neta, kenalin Mama sama teman kamu yang namanya Joshua dong. Dia yang telah membuat kita semua menjadi utuh kembali seperti ini.”
DEG!! Hati Neta kaget mendengar itu. Joshua? Bagaimana bisa? “Joshua? Bagaimana bisa? Joshua kecelakaan Ma. Dia sudah meninggal tadi siang.”
Ketika orang tua tau bahwa Joshua telah tiada, mereka langsung syok. Neta yang tidak tau ceritanya, mencari tau. Dan akhirnya, orang tua Neta menceritakan semuanya kepada Neta. Neta semakin terharu dengan apa yang telah diperbuat Joshua untuknya.
Dan malam itu, Neta berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi di dalam hidupnya 2 minggu terakhir. Bagaimana Neta mengenal Joshua. Bagaimana Neta mendengarkan Joshua setiap kali Joshua berdongeng. Bagaimana mereka bisa begitu akrab. Bagaimana bisa kehadiran Joshua telah membawa banyak perubahan berarti. Dan bagaimana suasana bisa berputar 180 derajat hanya dalam hitungan menit. Tuhan memang adil. Dia membawa seorang pergi, namun memberikan kebahagiaan di balik kepergian orang itu. Walaupun ada kesedihan, disana ada juga kebahagiaan terselubung. Neta terus saja mengingat semua itu. Neta pun menulis sebuah surat. Dan malam itu, pertama kali dalam beberapa tahun terakhir, Neta tidur sambil tersenyum.
Paginya, saat pemakaman Joshua selesai, dan semua orang telah pulang, Neta datang. Membawa bunga, surat dan balon. Neta datang bersama orang tuanya, namun mereka menunggu di mobil. Mereka ingin memberi Neta privasi.  Neta melangkah menuju tempat dimana Joshua terbaring selamanya. Neta telah berjanji, dirinya tidak akan menangis lagi hari ini. Bunga yang Neta bawa, ditaruhnya diatas gundukan makam Joshua. Neta duduk terdiam, di sebelah makam Joshua. Sobat, terimakasih atas segalanya. You’re my best friend ever. Bahagialah disana. Lalu setelah berdiam diri lama, Neta memutuskan untuk melepaskan balon isi nitrogen yang dibawanya. Sebelum melepaskannya, Neta mengikatkan sepucuk surat dibawahnya.
Terimakasih atas suratmu itu Josh, terimakasih atas waktunya selama ini, atas dongengmu yang indah, atas hati dan imajinasimu.
Kini, kau telah menjadi Dewa Langit-ku. Tuntun aku, terangi aku, indahkanlah langit malam ku dengan cahaya kerlipmu.
Joshua, Dewa Langitku, bahagialah. Jadilah bintang paling terang di angkasa sana. :)
Neta. :)
Dan dilepaskannya balon itu. Balon itu terbang, menembus awan dan langit. Dan nantinya, akan sampai ke Kerajaan Langit, dimana Joshua dan Bapaknya berada.  Lalu Neta pergi meninggalkan tempat pemakaman Joshua.
Setelah dari makam Joshua, orang tua Neta mengajaknya jalan jalan. Sesaat Neta teringat kepada Joshua. Dan lagu “Leaving on the Jetplane” milik Chantal Kreviazuk pun diputar di radio. Mata Neta berkaca-kaca. Ini adalah lagu kesukaan Joshua. Terimakasih Joshua. Dan Neta pun tau, bahwa Joshua sudah membaca isi suratnya. Dan juga bahwa Dewa Langit-nya ini akan selalu bersamanya.
Netapun ikut bersenandung seiring dengan lagu itu.
”Now, the time has come to leave you. One more time, oh, let me kiss you. And close your eyes, and I’ll be on my way..”
Dan sebuah bintang pun berkelip di langit tanpa disadari Neta.

Dewa Langitku, bahagialah...


Mata itu semakin sayu. Tak ada lagi kehangatan yang terpancar dari mata itu. Kosong. Namun pandangan matanya terarah ke sebuah gambar. Sebuah gambar yang menggambarkan sebuah kebahagiaan. Ya, itulah foto dirinya dengan keluarganya saat dia berulang tahun yang ke tiga tahun. Itu adalah saat dimana kita semua berkumpul, dengan cinta diantara kita. Satu keluarga utuh, layaknya keluarga yang lainnya. Perasaan itu kembali. Perasaan senang yang mungkin selama ini jarang dia rasakan. Perasaan bahagia diantara keluarga yang lengkap. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Sayup sayup ia mendengar, suara gebrakan meja dari lantai bawah. Senyuman itu menghilang tak berbekas. Hentikan. Aku mohon. Tolong berhenti.. Aku sudah tidak kuat. Tolong. Saya mohon ya Tuhan... dan sebulir air mata terus jatuh menetes,  setiap mendengar teriakan yang tak kunjung mereda.
BRAK!! Neta terjatuh dari tempat tidurnya. Ternyata Neta tertidur dalam keadaan menangis hingga esok pagi ini. Dan Neta tersadar, bahwa dirinya sudah terlambat masuk sekolah. Netapun segera bergegas. Dan melupakan kejadian semalam.
“Neta! Kamu terlambat lagi?! Sebenarnya kamu ini ngapain sih? Nge game? Nonton TV? Atau ngapain?!” bentak Pak Sarwono.
“Maafkan saya Pak, saya hanya tidak bisa tidur tadi malam.” Jawab Neta pelan. Neta melamun. Namun segera sadar dengan bentakan Pak Sarwono.
”Alasan kamu! Apa yang menyebabkan kamu tidak bisa tidur? Setan? Hantu? Maling? Bom? Atau apa?!” tegas Pak Sarwono yang nadanya semakin kali semakin keras. Sepertinya guru Neta yang satu ini emosinya sudah mencapai klimaks.
“Tidak tau Pak. Saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Neta lemah.
“Itu yang kamu ucapkan kemarin. Lebih baik kamu mempersiapkan alasan yang lebih bagus lagi. Ini terakhir kalinya kamu terlambat. Sekali lagi, saya akan menskors kamu. Dengar?!” jawab Pak Sarwono seraya meninggalkan ruang Kepala Sekolah.
“Baik Pak.” Jawab Neta pelan. Andai saja, Bapak tau apa yang terjadi. Bapak tidak akan berkata demikian. Pikir Neta sambil menahan air mata itu menuruni pipinya. Hari itu Neta pulang dengan takut. Takut lagi lagi dia harus mendengar setiap teriakkan yang menyayat hatinya.
“Neta! Main yuk.” Ajak Alex sahabat karibnya. Walaupun umur Alex lebih tua 1 tahun dari pada Neta, mereka telah bersahabat sejak mereka berada di TK. Sekarang, Neta umur 12 dan Alex umur 13. Namun, mereka tetap satu kelas. Karena Alex telat masuk SD. Hal itu juga dikarenakan oleh Neta. Alex tidak mau masuk SD kalau tidak ada Neta.
“Ayo! Tapi main apa Lex?” jawab Neta bingung. Sudah lama dia tidak pernah memakai kata “kak” dalam hal memanggil Alex. Terlalu tua..  Selalu seperti itu jawaban Alex kalau Neta memanggilnya dengan menggunakan “kak”. Tetapi Neta selalu menemukan sesosok kakak yang selama ini Neta cari dalam diri Alex. Sesosok yang menyayangi Neta.
“Gimana kalau petak umpet? Seru juga kan kalau cuma berdua. Ya nggak?” jawab Alex yang duduk di ayunan sedang memandangi langit sore itu dari taman perumahan.
“Boleh! Siapa takut?” jawab Neta antusias sambil mengikuti arah pandang mata Alex.
“Indah.......” gumam Neta.
“Memang indah. Dulu, sewaktu Mama ku masih ada, aku sering kesini dan melihat cahaya matahari sore hari. Kadang aku juga melihat Venus kalau aku dan Mama sedang beruntung. Sekarang, Mama sudah jadi bintang disana.” Kata Alex sambil menunjuk ke atas.
“Alex kangen ya sama Mama? Yang sabar ya, Alex. Besok Alex juga bakal ketemu lagi sama Mama Alex kan? Seperti kata Alex dulu.” Jawab Neta kasihan dan sedih melihat sahabatnya tiba tiba menjadi murung.
“Iya, Alex pasti bertemu lagi sama Mama.” Jawab Alex pelan dan sedikit berharap.
“Kena! Alex jadi ya? Hehe, sudah sekarang Neta mau ngumpet dulu.” Teriak Neta yang ternyata sudah berlari meninggalkan Alex.
 “Ah curang kamu! Baiklah. Aku pasti akan menemukanmu Neta! 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9..10.. sudah ya? Oke, aku mulai mencarimu, Net!” teriak Alex sambil berlari. Sore itu menjadi sore yang indah untuk mereka berdua. Neta pun sekilas melupakan kejenuhannya di rumah.
Alex dan Neta sama-sama datang dari keluarga yang mapan. Alexandra Aurelia Wijaya adalah seorang keturunan dari pasangan pemilik perusahaan mebel terkenal di Yogyakarta. Namun, saat Alex berumur 5 tahun, Alex harus menerima kenyataan. Bahwa kedua orang tuanya meninggal saat mobil yang kedua orang tuanya tumpangi menabrak pembatas jalan dan mobil itu masuk ke dalam jurang. Saat itu, saat Alex melihat kedua orangnya terbaring lemah dan tertutup oleh kain, Alex berpikir bahwa mereka berdua tidur. Namun, seiring berjalannya waktu, Alex tau bahwa mereka sudah pergi bersama dengan Tuhan. Itulah yang menyebabkan Alex selalu menjadi lebih dewasa ketika ia berkumpul dengan teman temannya. Alex lebih mandiri. 
Sedangkan Neta adalah anak dari Alexander Gunawan dan Ignatia Renata.  Neta adalah anak tunggal. Namun, sudah lama orang tua Neta tidak pernah akur dalam segala hal. Mereka selalu bertengkar. Neta tak mengerti, mengapa mereka selalu seperti itu. Yang jelas, Neta selalu tersiksa ketika orang tuanya sedang bertengkar. Rasanya, pengen mati saja kalau mendengar pertengkaran mereka.
Sekarang ini, kehidupan di rumah Neta hanya dipenuhi oleh keributan dan masalah. Tak pernah ada kedamaian. Masalah sedikit, bisa menjadi masalah besar. Neta menjadi lebih sering berada di luar rumah. Entah itu di rumah Alex ataupun hanya sekedar memandangi cahaya kemerahan yang dibuat oleh matahari di sore hari. Orang tua nya pergi jam 7 pagi, pulang jam 8 malam. Lalu mereka akan bertengkar. Selalu seperti itu. Tak pernah ada kata ‘damai’ ditengah mereka kini.
Dulu setelah kepergian orang tua Alex, Alex menjadi pendiam. Neta bingung. Karena Neta memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Orang dirumah Alex berkata kepada Neta, bahwa orang tua Alex tidur untuk selamanya. Namun Neta tidak mengerti maksudnya. Neta hanya mencoba menghibur dan membuat Alex kembali seperti dulu. Membuat Alex seceria dulu. Perlahan tapi pasti, Alex kembali menjadi Alex yang dulu. Meskipun Alex masih sedikit kaku dan diam. Tetapi Alex sudah bisa sedikit berubah dari murungnya. Dan Neta pun senang karena itu. Dan sejak saat itu, Neta semakin dekat dengan Alex. Karena Alex lah satu satunya keluaga yang dia punya. Dan semakin lama, mereka menjadi sulit dipisahkan.
Hari itu kelas VIID mendapatkan seorang anak baru. Murid ini mendapatkan beasiswa sehingga dia bisa masuk ke sekolah ini. Namanya Joshua. Joshua mempunyai wajah yang manis dan ganteng. Keperawakannya pun tegap dan tinggi.
“Joshua?” tanya Neta malu malu.
“Iya?” jawab Joshua polos.
“Aku boleh berkenalan tidak?” tanya Neta yang sekarang mukanya berubah menjadi lebih merah.
“Boleh. Aku Joshua. Kamu Neta ya?” jawab Joshua yang ternyata juga tersipu sambil menjabat tangan Neta.
“iya, kamu tau? Wah, hebat.” Jawab Neta perlahan namun dari gaya berbicara nya sudah terlihat lebih ringan.
“Iya, aku kan mempunyai semacam alat didalam otakku. Jadinya aku pintar menebak orang. Dikasih sama Dewa Langit  nih. Maaf aku agak aneh. Tapi aku memang menyukai segala sesuatu tentang langit. Jadinya aku suka membuat cerita tentang dewa langit.” Jawab Joshua sambil menunjuk ke kepalanya.
“Dewa Langit?” tanya Neta antusias.
“Iya, Dewa Langit. Kekanak kanakkan ya? Maafkan aku. Memang imajinasiku terlalu berlebihan.” Jawab Joshua.
“Dewa Langit itu baik ya?” tanya Neta terus menunggu jawaban Joshua. Joshua yang sadar bahwa kali ini ada orang yang antusias dengan khayalannya, menjadi sangat senang. Segeralah Joshua menjawab dengan sangat senang.
“Dia sangat baik. Bahkan dia mau memberikan alat ini untukku. Biasanya dia menggunakan  alat ini untuk mencari bintang di langit langit. Mencari bintang yang baru muncul” Jawab Joshua.
“Ceritakan semua tentang Dewa Langit-mu itu, aku akan sangat senang mendengarnya.” Jawab Neta begitu tertarik. Karena baginya, imajinasi seseorang adalah hal paling menarik di dunia ini.
“Baiklah!” jawab Joshua girang.
Obrolan mengenai dewa langit terus berlanjut. Joshua dan Neta pun menjadi semakin akrab. Dan Neta merasa, ada yang lain dalam diri Joshua. Netapun sedikit berharap, persahabatan ini akan bertahan sampai lama.
“Ternyata rumahmu ada didekatku ya? Cuma dibelakang kompleks rumahku.” Tanya Neta kepada Joshua. “Iya, aku juga nggak nyangka.” Jawab Joshua santai.
“Neta!” teriak Alex yang berlari mengejar Neta dan Joshua.
“ah! Kamu jahat banget. Ninggalin aku.” Alex berkata sambil mengatur nafasnya.
“Habisnya kamu dicariin muter sekolah juga nggak ketemu. Yaudah, aku duluan aja. Lagian ya ternyata si Joshua ini rumahnya dibelakang kompleks rumah kita. Jadi sejalan.” Cerita Neta panjang lebar.
“Oiya? Wah seru dong. Bisa barengan terus. Asik, dapet temen, Net.” Jawab Alex antusias.
“Iya, Lex. Nggak nyangka juga lho aku.” Jawab Neta.
“Eh Neta! Joshua! Maaf ya, hari ini aku harus pulang cepetan. Aku mau pergi les. Aku lupa, aku mulai les soalnya bentar lagi kan aku mau ikut semacam lomba olimpiade. Duluan ya Net, Joshua!” kata Alex.
 “Oke, sana pulang. Belajar yang rajin. Menangin tu olimpiade.” Joshua menyabotase Neta ketika Neta hendak menjawab perkataan Alex.
“Baiklah!” Alex berteriak sambil berlari menuju rumahnya.
“Rumahmu dimana sih?” tanya Neta penasaran.
“Ini lho, masuk ke gang sini. Kecil sih rumahnya, aku bukan orang mapan. Keluargaku hidup sederhana. Bapakku sudah tidak ada ketika aku berumur 7 tahun. Dan sejak itulah aku menjadi senang dengan Dewa Langit. Karena bagiku, dialah Dewa Langit-ku. Ah sudahlah, imajinasiku keterlaluan.” Jawab Joshua sedikit tersipu.
 “Oh begitu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat itu semua.” Neta menjawab dengan kepala sedikit menunduk.
“Enggakpapa kok. Aku juga tau, kalau kamu belum tau. Kamu kan enggak punya ini alat.” Jawab Joshua sambil mengelus kepala nya sendiri.
“Yasudahlah, aku pulang ya. Daah” Neta pergi sambil melambaikan tangannya.
“Daaah.” Joshua menjawab dan ikut melambaikan tangannya.
“Ngomong-ngomong, imajinasimu bagus. Aku suka.” Teriak Neta.
“Terimakasih!” Joshua membalasnya dengan berteriak tanpa mampu menyembunyikan perasaannya.
Joshua yang tengah berjalan pulang, tersenyum sendiri. Jadi, sebahagia ini ya punya teman itu. Mereka, teman pertamaku. Jadi, aku akan menjaga mereka bagaimana itu caranya. Dan Neta, Neta adalah satu satunya orang yang mau menyukai imajinasinya. Bagi Joshua, Neta dan Alex adalah teman pertama yang mengerti keadaan Joshua.  Karena selama ini, Joshua selalu dijauhi oleh teman temannya. Karena Joshua yatim, miskin, dan juga aneh.
Saat Neta kembali ke rumahnya, sang surya telah kembali ke peraduannya. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Sebentar lagi, perang akan meletus.. Neta berkata dalam hati. Neta memilih untuk masuk ke dalam kamar. Mengunci dirinya di dalam. Seakan kamar itu kedap suara. Neta mendengar suara mobil masuk ke garasi. Neta sudah bersiap untuk mendengar perang yang benar benar tak ingin dia dengar.
“Papa itu! Suka nya ngatur ngatur Mama! Memangnya Papa udah sempurna?! Papa ngelarang Mama ini itu, apa Papa pernah merhatiin Mama?” teriak Mama.
“Kamu itu tau apa?! Saya melakukan ini untuk kebaikan kamu! Kamu saja yang tidak pernah mengerti saya! Selama ini kamu pikir saya menikahi kamu untuk apa?! Saya pikir, kamu itu baik. Manis. Nurut sama suami. Ternyata, kamu itu Cuma mau harta!” teriak Papa lebih keras lagi.
“Saya minta cerai!” Mama membanting pintu kamar.
“Oke! Saya akan ceraikan kamu besok!” Teriak Papa yang juga membanting pintu.
Pelupuk mata nya sudah kembali dipenuhi air. Air mata yang sudah kesekian kalinya ditahan agar tidak keluar. Cerai? Bendungannya sudah tak bisa menahan air yang terus membanjiri matanya. Ia ingin sekali berteriak. Namun ia tak punya kekuatan untuk melakukannya. Dan sekarang, bantal lah yang menjadi temannya. Neta menangis hingga tertidur. Jalur air mata yang dibiarkan menetes melalui pipinya masih tergambar jelas ketika Neta bangun. Matanya sedikit bengkak. Namun sekali lagi, tak ada yang memperhatikannya.
“Pagi Joshua. Yuk berangkat.” Sapa Neta dan Alex.
“Ayo. Aku sudah siap.” Jawab Joshua.
“Yang duluan sampai sekolah, dia yang menang!” teriak Neta sambil berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Namun, Alex yang sudah terbiasa langsung berlari mengejar.
“CURANG!!” Joshua berteriak dan segera mengejar Neta dan Alex yang spertinya bersengkongkol untuk mengerjai dirinya.
Dan sekali lagi, Neta merasa bahagia diantara kedua sahabatnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ada ditengah kedua orang tuanya dan dirinya. Kebahagiaan diantara orang orang yang mengalami broken home seperti dirinya.
Sore itu, Alex harus pergi ke Semarang bersama Kakeknya. Jadi,  Alex tidak bisa menemani Neta bermain. Neta akhirnya sendirian di taman. Tapi tiba tiba seseorang menepuknya ketika Neta sedang duduk di kursi taman. Memandangi langit yang mulai memerah.
“Net! Ngapain sendiran? Aku temenin ya?” kata Joshua yang sudah berhasil membuat Neta terlonjak kaget.
“Joshua! Ngagetin aja kamu! Astaga. Boleh.” Jawab Neta seadanya karena Neta berpura pura marah kepada Joshua.
“Duduk ya. Distorsi cahaya matahari pada sore hari membuat langit hari ini indah ya. Pantas kamu betah ada disini. Aku baru tau kalau ternyata ada spot sebagus ini disini. Langit itu memang menyimpan sejuta misteri yang indah. Contohnya ya langit sore ini. Dewa Langit memang sangat pintar dalam mengatur ini semua.” Jawab Joshua dengan memandang kagum langit sore itu.
“Iya, memang indah. Dewa Langit memang hebat dalam berkarya. Aku suka dengan karyanya. Sangat.” Jawab Neta. Pandangannya menerawang.
“Eh kamu tadi kenapa sih Net? Kok mata kamu bengkak? Kamu ada masalah ya? Boleh denger nggak? Aku bisa dengerin kok. Ya siapa tau aku bisa sedikit ngehilangin beban kamu.” Ucap Joshua. Kata kata barusan seolah menyihir Neta. Neta menjadi salah tingkah. Kenapa dia bisa tau? Dia baru mengenal aku 2 hari. Dia sudah bisa melihat aku menangis? Bahkan, Alex saja jarang sekali menyadari hal itu. Pikir Neta. Karena Neta sudah mati matian menutupi segala hal yang terjadi di rumah. Dia tak ingin ada yang tau tentang hal itu. Berbongkah bongkah es batu telah Neta habiskan untuk mengompres matanya. Selama ini trik ini berhasil. Tapi kali ini, ada yang bisa membacanya.
”Hmm.. nggak ada apa apa kok. Hehe.” Jawab Neta sesantai mungkin.
“Sudahlah, jangan bohong sama aku. Aku tau. Alat ini sudah memberi tauku.” Jawab Joshua sambil menunjuk kearah kepalanya. Neta berusaha mempertimbangkan apakah ia akan memberi tahu Joshua yang sebenarnya atau tidak. Akhirnya, Neta memilih menceritakannya.
Joshua mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Neta. Seakan dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Neta. Seumur Joshua hidup, baru kali ini dia mendengar cerita seperti itu. Joshua bergidik ngeri. Joshua tidak tau harus bagaimana kalau saja itu terjadi di keluarganya.
Neta menceritakan semuanya kepada Joshua. Entah kenapa, Neta merasa lega setelah melakukannya. Serasa, beban yang selama ini dia topang terlepas begitu saja. Lenyap. Bebas. Beban itu pergi lenyap entah kemana. Neta menyadari, Neta telah membuka aib keluarganya. Namun sepertinya Joshua bukanlah orang yang harus ditakuti. Joshua takkan pernah membongkar rahasia ini kepada orang lain. 
Dan sisa sore ini dihabiskan Neta dan Joshua dengan saling bercerita. Joshua bercerita tentang Bapaknya, tentang Ibunya, tentang beratnya ditinggal seorang bintang penuntun. Tentang perjuangannya agar Joshua bisa masuk ke sekolah mereka sekarang ini. Joshua menceritakan semuanya. Hal yang sangat amat rahasia yang jarang Joshua bagi kepada siapapun. Namun, entah mengapa, Joshua merasa nyaman saat bercerita dengan Neta.
Saat mereka harus pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, Joshua mengecup pelan kening Neta. Memberinya semangat.
Setelah kejadian di taman itu, Neta dan Joshua menjadi semakin dekat. Bahkan ada yang berkata bahwa mereka berdua itu pacaran. Namun, mereka tidak pernah menganggap hal itu. Mereka tetap bersahabat. Karena sahabat itulah yang terbaik.
Malam itu, Neta kembali mendengar suara tak mengenakkan dari bawah. Orang tua Neta akan bercerai. Bahkan surat cerainya sudah ada. Tinggal menunggu persidangan. Neta menatap keluar jendela. Menatap langit. Abu abu. Lalu dia berkata didalam hati. Dewa Langit, kalau kau memang baik, munculkanlah bintang satu saja saat ini. Aku sedang sedih. Hiburlah aku, dan aku mohon, biarlah Joshua bisa melihat keindahan bintang itu. Sekedar untuk mengobati rasa rindunya kepada Bapaknya.
Malam ini, Joshua mencoba mengingat semua hal yang telah diceritakan oleh Neta kepadanya. Dia mencoba berpikir, bagaimana caranya agar orang tua Neta dapat berbaikan. Lalu Joshua pergi ke depan rumahnya, melihat ke langit. Dewa langit, jikalau memang dirimu ada. Tunjukkan lah satu bintangmu. Berilah aku semangat dengan bintangmu itu. Beri aku petunjuk. Dan biarlah Neta bisa  melihatnya, agar dia bisa kuat, menghadapi ini semua.
Dan sebuah bintangpun bersinar terang. Diantara abu-abunya langit itu.
Setelah seminggu berpikir, Joshua menemukan cara untuk mendamaikan orang tua Neta. Joshua tidak tau, apakah surat ini akan mendamaikan mereka atau justru memperburuk keadaan karena ada orang yang mencampuri urusan mereka. Namun, Joshua ingin berusaha. Joshua ingin mencoba. Karena segala sesuatu jika belum dicoba, tidak akan tau hasilnya seperti apa. Dan Joshua yakin, segala sesuatu yang dimulai dengan keyakinan, akan selalu berbuah baik.
Joshua mengirimkan surat itu lewat kantor pos. Karena Joshua tidak mungkin datang ke tempat dimana orang tua Neta bekerja, karena Joshua hanya mempunyai sebuah sepeda tua untuk berpergian lumayan jauh. Itupun juga sepeda peninggalan Bapaknya. Sedangkan rumahnya ada di daerah Jogja, dan kantor kedua orang tua Neta ada di Bantul. Itu berarti, kalau Joshua ingin mengantarkannya secara langsung, Joshua harus berkendara kurang lebih 20 km. Jarak yang sangat jauh.  Jadi, Joshua memutuskan untuk mengirimkan saja surat itu.
Di perjalanan pulang, Joshua melihat ada toko yang menjual berbagai macam hiasan yang bertemakan langit. Joshua teringat Neta. Sesaat, Joshua merogoh koceknya. Dua puluh ribu.. semoga ini cukup untuk membelikan Neta hadiah..
Joshua memasuki toko itu. Sederhana memang toko itu. Semoga harganya tidak terlalu mahal. Kemudian, Joshua melihat lihat. Joshua melihat sebuah hiasan dinding berbentuk bintang. Hiasan ini bisa bercahaya dalam gelap, karena mengandung fosfor. Joshua tertarik untuk membeli itu. Pasti Neta suka dengan hadiah ini.. Segera saja, Joshua membawa hiasan ini ke kasir. Dan ternyata harganya hanya tujuh belas ribu. Joshua sangat bersyukur karena itu. Setelah dibungkus rapi, Joshua menuliskan sesuatu di kertas dan menempelnya diatas bungkusan itu.
Saat keluar dari toko itu, Joshua segera mengambil sepeda nya yang terparkir di seberang jalan. Sebegitu senangnya, Joshua berlari kecil sambil menyebrangi jalan, tanpa menyadari ada truk besar yang sedang melaju kencang di sebelahnya.
CIIIIIIIIIIIIITTTTT!!! BRAAAAAAAK!!!
Mendadak Joshua tidak bisa melihat. Hitam dimana mana. Joshua hanya bisa mendengar jeritan beberapa orang, entah itu siapa. Lalu mendadak semuanya berubah putih. Silau. Sangat menyilaukan. Joshua harus menutup matanya agar dia tidak buta.
Saat Joshua merasa cahaya itu sudah sedikit meredup, Joshua membuka matanya. Dan Joshua melihat seorang laki laki. Tinggi, namun jangkung. Laki laki  itu berjalan ke arah Joshua terduduk. Terus mendekatinya. Sebelum Joshua melihat dengan jelas siapa laki laki itu, laki laki itu berbicara.
“Joshua. Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya laki laki itu.
Mata Joshua melebar. Antara terkejut dan tidak percaya. Sosok laki laki itu semakin jelas. Dan Joshua tidak salah menduganya. Setelah Joshua mendengar suaranya, Joshua sangat yakin dengan siapa Joshua berbicara.
“Bapak? Bapak?! Saya baik baik saja Pak. Bapak kenapa bisa? Kenapa bisa saya bersama Bapak? Bapak, Joshua rindu sama Bapak..” Joshua berkata terbata bata dan langsung beranjak memeluk Bapaknya itu. Joshua ingin segera meluapkan rasa rindu kepada Bapaknya setelah sekian lama Joshua tidak bertemu dengan Bapaknya.
Joshua merasa, Bapaknya membalas pelukannya dengan erat. Segeralah Joshua membalas pelukan itu dengan sangat erat juga. Joshua sangat rindu dengan Bapaknya.
“Kangen ya sama Bapak, Le?” tanya Pak Saptodi, panggilan akrab Bapaknya Joshua.
“Kangen sekali, Pak.” Jawab Joshua yang sekarang sudah berkaca kaca.
“Ikut Bapak aja, Le” ajak Pak Saptodi kepada anaknya ini.
“Kemana, Pak?” Joshua bingung.
“Ke tempat yang sangat indah. Tempat dimana Bapak tinggal selama ini. kamu pasti akan sangat menyukainya. Mau ya, Le?” Jawab Pak Saptodi sambil mengulurkan tangannya.
“Tapi...” Joshua lebih bingung lagi.
“Sudahlah, Le. Bapak tau, Bapak selama ini salah telah meninggalkanmu. Bapak sudah memberikan tugas yang sangat banyak kepadamu. Bapak merasa sangat bersalah. Dan Bapak mohon, biarkan Bapak menebus kesalahan Bapak selama ini. Kamu mau kan?”
“Tapi, Pak..” Joshua semakin tidak tau harus bagaimana.
“Tugasmu sudah selesai, suratmu itu. Sudah sampai di tangan yang tepat. Sekarang, saatnya kamu beristirahat sama Bapak. Kamu mau ya? Kita nikmatin masa masa yang dulu sempat hilang.” Ujar Pak Saptodi tenang. Seperti tak ada beban yang menempel di hati laki laki tua itu.
“Sungguh?” Joshua berseri seri ketika tau bahwa surat itu sudah sampai.
“Sungguh, Le. Dan tentang hadiah itu, hadiah itu nanti akan sampai ke tangan orang itu. Perempuan itu.” Bapaknya serasa membaca pikiran Joshua.
“Baiklah Pak. Saya akan ikut dengan Bapak.” Jawab Joshua tenang. Joshua sadar, waktunya memang telah habis.
“Ayo Le, raih tangan Bapak.” Ujar Pak Saptodi.
“Mari Pak.” Jawab Joshua serasa meraih tangan Bapaknya. Dan setelah Joshua meraih tangan Bapaknya, beban Joshua serasa hilang. Lenyap. Dan kemudian, Joshua terbang dengan Bapaknya. Kemana itu, yang jelas, Joshua akan bahagia. Joshua telah bersama dewa Langit-nya.
Desa itu masih sepi. Tapi terdengar ramai di sebuah rumah kecil dan sederhana. Berbondong bondong warganya datang ke rumah itu. Terdengar suara tangisan seorang remaja perempuan yang memecah kesunyian. Kesunyian yang mencekam. Tangisan itu bukan seperti tangisan kesedihan. Tapi tangisan kehilangan, tangisan ketidakpercayaan, tangisan keputus asaan. Ya, itu suara Neta.
 “Tidak! Joshua nggak mungkin meninggal! Kamu pasti bercanda! Nggak!” teriak Neta. Neta yang diberi kabar oleh Alex langsung meronta. Dan langsung berlari menuju rumah Joshua.
“Sabar ya Neta, tapi memang Joshua sudah nggak ada. Dia sudah tidur buat selamanya. Dia sudah bersama dengan Tuhan sekarang. Sama Dewa Langit juga.” Alex berkata sambil terus memegangi Neta yang meronta dan berteriak.
Neta tidak percaya dengan apa yang dikabarkan oleh Alex. Neta ingin mendapat kepastian. Dengan langkah kaki penuh keyakinan bahwa yang dikatakan Alex itu hanya bercanda, Neta berlari ke arah rumah Joshua. Neta melihat banyak warga yang berkumpul di rumah Joshua. Perasaan Neta menjadi sangat tidak enak.
Dan benar saja, di dalam rumah mungil itu, seorang ibu yang sudah tua menangis tersedu. Di samping seorang laki laki yang tertidur pulas di sebelahnya. Laki laki itu tidur dengan wajah yang sangat manis. Dia tersenyum. Dan ya, itu Joshua.
Ibu yang ada di samping Joshua itu berkata, “Neta ya?” sambil berusaha tersenyum.
Dari sorot matanya, tergambar bahwa mata itu telah lelah menangis. Mata itu menyimpan begitu banyak luka yang tersayat di hati Ibu itu. Namun, ada sebersit perasaan lega dan bahagia dari sorot mata itu. “Iya Bu. Maaf, kenapa ya Bu?” Neta menjawab dengan mata berkaca. Neta tidak mau meronta dan berteriak disini. Tidak pantas. Neta berusaha menahan segala perasaan nya ini. Namun, tetap saja Neta manjatuhkan air mata.
“Ini, Joshua bawa ini tadi. Diatasnya ada tulisan. Monggo, silahkan diambil.” Ibu itu berkata dengan pasrah.
Segera didekatinyalah Ibu tua itu. Semakin dekat, Neta semakin sadar. Perempuan tua itu adalah Ibu Joshua.
“Ini apa ya Bu?” Neta berkata setelah Neta menerima bungkusan itu.
“Saya tidak tau, Nak. Dibawa saja. Itu sudah pasti akan diberikan kepadamu.” Jawab Ibu itu seraya meninggalkan ruang tengah yang mendadak menjadi pengap.
Neta juga memilih pergi dari ruangan itu. Neta gerah melihat itu semua. Air mata yang sudah bersarang banyak di pelupuk matanya, sudah tak lagi dapat dibendung. Namun, sebelum Neta memutuskan untuk pergi. Neta berbalik melihat wajah Joshua. Tenang. Neta mengecup kening Joshua perlahan. Menandakan perpisahan.
Neta berlari meninggalkan kerumunan orang itu. Neta memilih berlari ke arah taman. Alex yang tadi sepertinya memanggil namanya, tidak lagi Neta hiraukan. Saat ini, Neta hanya ingin sendiri.
Sore itu, menjadi tak biasa bagi Neta. Segalanya serasa berbeda. Tak lagi ada sesosok laki laki yang mendongengkannya dongen tentang langit. Segalanya berubah sepi. Dibawah sinar mentari sore yang hari itu agak tertutupi oleh awan cumolonimbus tebal, Neta membuka bungkusan kecil itu. Sebuah hiasan dinding berbentuk bintang. Di bungkusan itu, ada sebuah catatan kecil.
Hai Netaku. Aku membelikan ini untukmu. Tidak sengaja, aku melihat toko yang menjual ini. Ini khusus aku berikan buat kamu, biar kamu nggak perlu lagi keluar rumah ditengah hawa malam yang dingin, hanya untuk melihat bintang. Kamu cukup padamkan lampu kamarmu, dan jadilah bintang ini bersinar terang. Dipasang ya.
Joshua.
Neta menangis sejadi jadinya. Bendungannya sudah tak lagi kuat menahan serbuan air dari dalam kelopak matanya. Dia menangis dalam diam. Dan sesaat setelah Neta tenang, Neta menengadah melihat ke langit. Mendung.. Neta kemudian sadar, Joshua tidak suka Neta menangis. Karena tak ingin membuat Joshua resah disana, Neta berhenti menangis. Neta memutuskan kembali ke rumahnya. Rumah yang pasti akan membuat Neta kembali menangis.
Saat Neta membuka pintu depan rumah, Neta sudah bersiap mendengar terjangan serangan bertubi tubi dari mulut Papa dan Mama. Namun kali ini, Neta berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendengarnya.
Namun, ada yang berbeda dengan suasana rumah malam ini. Rumah ini sepi. Seperti sudah tak berpenghuni. Seperti negara yang sudah kalah perang karena warganya sudah tewas semua. Neta bergidik ngeri karena pemikirannya yang barusan. Perlahan, Neta masuk ke dalam rumahnya. Dan ternyata, di ruang tengah Neta sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya. Ada apa lagi ini... Neta sudah pasrah.
”Sayang, duduk sini.” Mama memanggil Neta. Segera saja, Neta duduk disebelah Mama. Namun Neta mengambil jarak sedikit, kalau kalau saja tiba tiba Papa menembak kami berdua.
Hening. Seperti kuburan. Tapi bedanya, disini keheningan yang tegang. Bukan menakutkan.
“Maafkan kami ya Neta.” Akhirnya Papa ambil suara.
Neta yang tersentak, terbatuk batuk dan sulit mengatur nafasnya kembali.
“Iya, maafkan Papa dan Mama. Selama ini, Papa dan Mama selalu bertengkar. Kami nggak pernah memikirkan kamu.” Mama menjawab dengan sedikit terisak.
“Ta.. ta.. tapi.. ada apa? Bukankah kalian sudah memutuskan untuk bercerai? Aku nggakpapa kok.” Neta menjawab seadanya. Walaupun Neta sedikit berharap apa yang dikatakan Papa dan Mama bukan hanya berbohong.
“Papa serius. Papa masih sayang sama Mama. Papa masih cinta sama Mama. Papa juga sayang sama kamu. Papa gak sanggup kehilangan kalian. Papa minta maaf kalau selama ini Papa egois. Papa minta maaf, Papa nggak pernah mikirin kalian. Papa minta maaf.” Papa sepertinya sudah mulai meneteskan air mata.
“Mama juga. Selama ini, Mama hanya dipenuhi oleh perasaan yang selalu saja tidak puas. Mama tidak memikirkan bagaimana perasaan Papa, bagaimana perasaan kamu. Maafkan Mama.” Mama menangis sejadi- jadinya.
Bola mata Neta membesar. Neta tidak percaya. Akhirnya, selesai sudah perang ini. Segera saja, Neta menjawab “Pa, Ma. Neta memaafkan kalian. Asalkan kalian memang mau berbaikkan. Dan tidak akan bertengkar lagi.”
“Kami janji.” Papa dan Mama serentak menjawab.
“Berpelukkan.” Neta berteriak seraya merangkul kedua orang tuanya itu.
Setelah lama berpelukkan, Mama bertanya kepada Neta “Oiya Neta, kenalin Mama sama teman kamu yang namanya Joshua dong. Dia yang telah membuat kita semua menjadi utuh kembali seperti ini.”
DEG!! Hati Neta kaget mendengar itu. Joshua? Bagaimana bisa? “Joshua? Bagaimana bisa? Joshua kecelakaan Ma. Dia sudah meninggal tadi siang.”
Ketika orang tua tau bahwa Joshua telah tiada, mereka langsung syok. Neta yang tidak tau ceritanya, mencari tau. Dan akhirnya, orang tua Neta menceritakan semuanya kepada Neta. Neta semakin terharu dengan apa yang telah diperbuat Joshua untuknya.
Dan malam itu, Neta berusaha mengingat semua kejadian yang terjadi di dalam hidupnya 2 minggu terakhir. Bagaimana Neta mengenal Joshua. Bagaimana Neta mendengarkan Joshua setiap kali Joshua berdongeng. Bagaimana mereka bisa begitu akrab. Bagaimana bisa kehadiran Joshua telah membawa banyak perubahan berarti. Dan bagaimana suasana bisa berputar 180 derajat hanya dalam hitungan menit. Tuhan memang adil. Dia membawa seorang pergi, namun memberikan kebahagiaan di balik kepergian orang itu. Walaupun ada kesedihan, disana ada juga kebahagiaan terselubung. Neta terus saja mengingat semua itu. Neta pun menulis sebuah surat. Dan malam itu, pertama kali dalam beberapa tahun terakhir, Neta tidur sambil tersenyum.
Paginya, saat pemakaman Joshua selesai, dan semua orang telah pulang, Neta datang. Membawa bunga, surat dan balon. Neta datang bersama orang tuanya, namun mereka menunggu di mobil. Mereka ingin memberi Neta privasi.  Neta melangkah menuju tempat dimana Joshua terbaring selamanya. Neta telah berjanji, dirinya tidak akan menangis lagi hari ini. Bunga yang Neta bawa, ditaruhnya diatas gundukan makam Joshua. Neta duduk terdiam, di sebelah makam Joshua. Sobat, terimakasih atas segalanya. You’re my best friend ever. Bahagialah disana. Lalu setelah berdiam diri lama, Neta memutuskan untuk melepaskan balon isi nitrogen yang dibawanya. Sebelum melepaskannya, Neta mengikatkan sepucuk surat dibawahnya.
Terimakasih atas suratmu itu Josh, terimakasih atas waktunya selama ini, atas dongengmu yang indah, atas hati dan imajinasimu.
Kini, kau telah menjadi Dewa Langit-ku. Tuntun aku, terangi aku, indahkanlah langit malam ku dengan cahaya kerlipmu.
Joshua, Dewa Langitku, bahagialah. Jadilah bintang paling terang di angkasa sana. :)
Neta. :)
Dan dilepaskannya balon itu. Balon itu terbang, menembus awan dan langit. Dan nantinya, akan sampai ke Kerajaan Langit, dimana Joshua dan Bapaknya berada.  Lalu Neta pergi meninggalkan tempat pemakaman Joshua.
Setelah dari makam Joshua, orang tua Neta mengajaknya jalan jalan. Sesaat Neta teringat kepada Joshua. Dan lagu “Leaving on the Jetplane” milik Chantal Kreviazuk pun diputar di radio. Mata Neta berkaca-kaca. Ini adalah lagu kesukaan Joshua. Terimakasih Joshua. Dan Neta pun tau, bahwa Joshua sudah membaca isi suratnya. Dan juga bahwa Dewa Langit-nya ini akan selalu bersamanya.
Netapun ikut bersenandung seiring dengan lagu itu.
”Now, the time has come to leave you. One more time, oh, let me kiss you. And close your eyes, and I’ll be on my way..”
Dan sebuah bintang pun berkelip di langit tanpa disadari Neta.